Gejalanya, detak jantung sangat cepat. Tidak beraturan sampai jantung menggelepar. Jika tidak ditangani dengan tepat, ujungnya adalah kematian. Selain itu, sudden cardiac death bisa muncul karena kelainan jantung bawaan. Yakni kebocoran klep dan sekat jantung. Kondisi klinis tidak jarang baru muncul setelah remaja. Saat kecil belum ketahuan. “Nama penyakitnya GUCH. Grown up congenital heart disease,” ujar Saskia.
Alumnus Universitas Airlangga itu mengungkapkan, SCD juga bisa terjadi pada seseorang yang memiliki kelainan otot jantung. Seperti penebalan dinding jantung. Lalu, kegagalan fungsi otot jantung disertai pembengkakan. “Bisa mendadak serangan jantungnya,” ucap Saskia.
Begitu bahayanya SCD sehingga sebaiknya setiap orang melakukan pemeriksaan fisik pada jantung. Sebab, penyakit jantung bisa muncul tanpa gejala. Kalau yang memiliki faktor resiko lebih penting lagi ke dokter jantung. Contohnya memiliki riwayat genetik.
Lalu, gaya hidup kurang bagus sehingga memiliki masalah kolesterol, kencing manis, dan hipertensi. Apalagi jika disertai keluhan Yakni jantung berdebar, sesak, keringat dingin, dan mudah lelah. “Harus diwaspadai kalau ada gejala-gejala ini,” katanya.
Saskia menambahkan, cara pemeriksaan itu bisa dengan electrocardiogram (ECG). Itu untuk kelainan irama jantung. Sementara itu, untuk kelainan jantung bawaan memakai ultrasonografi (USG) jantung atau echo kardiografi. “Meski tidak ada keluhan lebih baik cek up detail, kalau menunggu gejala seringkali sudah terlambat,” ungkap Saskia. (nir/JPG/hargo)
