Hargo.co.id GORONTALO – Sejak April 2016 lalu. Nama Desa Botubarani mendadak tenar. Tidak hanya di Provinsi Gorontalo tetapi sampai di tingkat nasional, bahkan mancanegara.
Ribuan orang silih berganti mengunjungi desa yang terletak di Kecamatan Kabila Bone, Bone Bolango tersebut. Mulai dari masyarakat biasa, artis, bupati/walikota hingga menteri ikut menyambangi daerah pesisir Teluk Tomini itu.
Tak ketinggalan para pelancong dari daerah tetangga maupun turis/wisatawan asing. Kedatangan berbagai kalangan ke Desa Botubarani bukan hanya sekadar menikmati keindahan pantai saja. Tetapi lebih dari itu daya tarik utamanya adalah ingin menyaksikan keberadaan hiu paus.
Keberadaan ikan yang memiliki bobot hingga 20 ton itu menarik perhatian lantaran cukup dekat dengan bibir pantai. Hanya berjarak sekitar 50 meter.
Sehingga dengan perahu dayung ataupun berenang, para pengunjung sudah bisa menyaksikan ikan yang dilindungi Badan Dunia International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) itu.
Menariknya lagi, keberadaan ikan yang dalam bahasa Gorontalo disebut Munggiango Hulalo tersebut bukan hanya seekor. Tetapi mencapai 17 ekor. Ukurannya pun bervariasi mulai dari sekitar 4 meter hingga 13 meter.
“Orang-orang tua menamakan Munggiango Hulalo karena badannya ada totol-totol. Pertama kali muncul satu ekor. Kemudian lama kelamaan menjadi 8 ekor. Sekarang ini jumlahnya 17 ekor,†ungkap Ketua Kelompok Sadar Wisata Hius Paus Yansur Pakaya.
Keterangan warga setempat, keberadaan hiu paus di wilayah perairan Desa Botubarani mulai muncul seiring keberadaan pabrik pengolahan ikan PT Sinar Ponula Deheto. Ditengarai, air buangan dan amis ikan dari pabrik yang mengalir ke pantai memicu kedatangan Hiu Paus.
Puncaknya ketika pabrik tersebut mengolah udang untuk ekspor ke luar negeri (Jepang). Buangan cangkang kepala udang menjadi ‘santapan’ menggiurkan bagi para hiu paus. Sehingga lambat laun satu persatu Hiu Paus bermigrasi ke Teluk Tomini, tepatnya di perairan Desa Botu Barani.
Penelusuran Gorontalo Post, pabrik PT Sinar Ponula Deheto didirikan salah satu investor perikanan asal Jakarta pada 1999. Awal mulanya, pabrik yang merupakan perusahan keluarga itu mengelola ikan jenis pelagis.
Seperti Ikan Deho dan Lajang, serta ikan sejenisnya untuk dikirim ke Makassar, Jakarta. Hingga pada 2012 silam, PT Sinar Ponula Deheto berganti menjadi CV Lautan Sakura, perusahaan pengepakan dan eksportir udang vaname.
Begitu pula bahan baku yang diolah dari sebelumnya ikan berganti menjadi udang vaname. Limbah berupa cangkang kepala yang dihasilkan dari pengolahan udang untuk tujuan ekspor itu awalnya kurang digubris oleh masyarakat setempat.
Setiap harinya bila dirata-ratakan, limbah cangkang kepala udang yang dihasilkan dari pengolahan CV Lautan Sakura berkisar 100-200 kilogram. Limbah tersebut dijemur/dikeringkan dan diolah untuk pakan ternak.
Apabila areal penjemuran tak lagi mampu menampung (kelebihan), maka sisa limbah cangkang kepala udang itu dibuang ke laut. Namun sejak mencuatnya keberadaan Hiu Paus, masyarakat setempat mulai melirik limbah cangkang kepala udang. Limbah tersebut digunakan untuk merangsang dan memberi makan ketika Hiu Paus naik ke permukaan air.
“Hiu paus itu sebenarnya tiga tahun lalu memang sudah ada semenjak limbah cangkang udang dari pabrik kami dibuang di laut,” kata Mukram, keluarga Pemilik PT Sinar Ponula Deheto.
Menurut Mukram, dengan adanya hius paus ini cangkang tersebut kata Mukram dijual ke masyarakat nelayan seharga Rp 5 ribu per kilo gram. “Kalau perusahaan jual cangkang udang itu Rp 5 ribu per kilogram ke nelayan yang menjadi pemandu para pengunjung. Kemudian nelayan menjual kembali dengan harga Rp 10 ribu,†kata Mukram.
Ia bersyukur dengan adanya pabrik tersebut berdampak positif terhadap peningkatan ekonomi masyarakat setempat khususnya para nelayan. Terbukti dengan adanya lapak-lapak dagangan seperti souvenir hiu paus, para penjual makanan, rental alat selam dan lain sebagainya.(roy/csr/tr-45/tro)
