Produksi Pertanian di Gorontalo Tak Lagi Swasembada, Tapi Surplus  

×

Produksi Pertanian di Gorontalo Tak Lagi Swasembada, Tapi Surplus  

Sebarkan artikel ini
Presiden RI, Joko Widodo dan istri, Iriana Joko Widodo saat panen raya jagung di gorontalo beberapa waktu lalu. (Foto Isitmewa/Jawa Post)

Hargo.co.id, GORONTALO – Menteri Pertanian Amran Sulaiman merupakan menteri kabinet kerja yang paling rajin ke Gorontalo. Pria asal Sulawesi Selatan ini mengaku senang, sebab program pertanian tak ada yang gagal di Gorontalo. Malah hasilnya melimpah, seperti jagung, padi, dan produk pertanian lainya, termasuk peternakan.

Ia tak tanggung-tanggung memuji kinerja Gubernur Gorontalo Rusli Habibie dimana pengembangan pertanian Gorontalo, tak hanya ‘brand’, tapi benar-benar nyata. Hasilnya pun tak sekadar catatan hitam diatas kertas, namun memberikan dampak kesejahteraan bagi petani.

Presiden Joko Widodo bahkan ikut tertarik dengan produksi jagung di Gorontalo. Bersama ibu negara Iriana Jokowi dan sejumlah menteri kabinet, Jokowi datang ke Desa Botuwombatu, Kabupaten Gorontalo Utara hanya untuk panen jagung, termasuk melepas ekspor jagung dari Gorontalo pada 1 maret 2019 yang lalu.

Produksi jagung Gorontalo setiap tahun memang meningkat, tapi peningkatan yang sangat signifikan baru terjadi pada era Gubernur Rusli Habibie dan Wagub Idris Rahim. Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo  mencatat, pada  2001 misalnya, di masa awal Provinsi Gorontalo, produksi tercatat hanya 81.719 ton.

Tahun 2002 produksi jagung naik menjadi 130.251 ton. Butuh waktu lima tahun untuk bisa mendongkrak produksi jagung hingga menyentuh angka setengah juta ton, atau tepatnya 572.785 ton di tahun 2007.

Itu pun, produksi jagung meningkat drastis karena pemerintah pusat mengucurkan program Celebes Corn Belt (CCB).  Ketika itu, Gorontalo mulai dikenal dengan ‘provinsi jagung’ padahal jumlah produksi baru mencapai setengah juta ton.

Produksi jagung Gorontalo naik ‘gila-gilaan’ pada tujuh tahun terakhir, sebab mencapai angka 1 juta ton. Dan ini terjadi di-era kepemimpinan Rusli Habibie -Idris Rahim. Kini, produksi jagung Gorontalo bahkan menyentuh lebih dari 1,5 juta ton.

Tidak hanya menjadi penopang kebutuhan jagung nasional, namun jagung Gorontalo juga menembus pasar ekspor seperti ke Filipina maupun Malaysia. Tahun 2018, Gorontalo melakukan eksport 113.000 ton jagung padahal target Menteri Pertanian hanya 50.000 ton, tidak heran Gorontalo memberi kontribusi 30 persen ekspor jagung nasiona. Ekspor jagung tahun 2018, menjadi ekspor jagung terbesar selama Provinsi Gorontalo terbentuk.

Kepala Dinas Pertanian Mulyadi Mario mengatakan, memang tidak mudah mencapai angka produksi jagung sebanyak itu, namun motivasi Gubernur Rusli Habibie terhadap jajaranya menjadi energi tersendiri bagi Dinas Pertanian.

Apalagi kata Mulyadi, gubernur ke luar masuk kementerian pertanian, tak kenal waktu bertemu Menteri Pertanian, hanya untuk memperjuangkan program ke Gorontalo. Gubernur kata Mulyadi, sadar bahwa untuk menggenjot pertanian Gorontalo, khususnya produksi jagung tidak cukup bila hanya mengandalkan dana APBD.

“Makanya pak Gubernur itu terus menemui pak Menteri, upaya itu berbuah hasil, bantuan pertanian seperti benih, pupuk, maupun alsintan dikucurkan ke Gorontalo,” ujar kata Mulyadi.

Selain jagung, produk pertanian lainya juga terus meningkat setiap tahun. Misalnya padi, pada tahun 2012 dari luas panen 51,193 hektar memproduksi padi 245,786 ton, tahun 2013 produksi padi mencapai 295.913 ton, produksi padi tak pernah susut, pada tahun 2018 mencapai 354.036 ton dan semester pertama 2019 mencapai 346.756 ton padi.