Mei-Juli 31 Ribu Pengunjung Padati Botubarani

×

Mei-Juli 31 Ribu Pengunjung Padati Botubarani

Share this article
Pengunjung saat memadati desa Botubarani untuk dapat melihat hiu paus secara langsung.(Foto : Natha/Gorontalo Post)

Hargo.co.id GORONTALO – Keberadaan Hiu Paus di wilayah perairan Desa Botubarani menjadi sebuah destinasi wisata baru di Gorontalo. Bahkan sejak mencuat ke permukaan pada April 2016 lalu, Hiu Paus seakan menjadi magnet tersendiri bagi para wisatawan.

Buktinya, dalam rentang tiga bulan terakhir (Mei-Juli), jumlah pengungjung ke wisata Hiu Paus Botubarani mencapai 32.130 orang. Dari jumlah tersebut sebanyak 225 orang merupakan wisatawan asing.

Selanjutnya dari 31.130 orang yang berkunjung, sebanyak 573 orang mengamati Hiu Paus dengan cara snorkeling serta 197 orang mengamati dengan menyelam (diving). Selebihnya mengamati Hiu Paus dari atas perahu.

Di sisi lain, sejumlah artis yang datang ke Gorontalo ikut pula menyempatkan diri untuk melihat Hiu Paus. Seperti Reza Rahardian, Chelsea Islan, Tara Budiman, Ayu Pratiwi, Indah Permata Sari, Shanty, DJ Fernando, Cristian Loho serta Tommy Kurniawan.

Menteri Perikanan Susi Pudjiastuti, Walikota Tidore Ali Ibrahim, Walikota Maluku Richard Louhenapessy beserta rombongan perwakilan Walikota se Indonesia Timur ikut pula menyaksikan keberadaan Hiu Paus.

“Terkait pengembangan wisata Hiu Paus dari Pemerintah Provinsi maupun Kementerian Kelautan Perikanan sudah memberikan bantuan. Di antaranya berupa alat snorkeling dan diving yang dilengkapi kamera untuk memantau kondisi hiu paus, kemudian rompi serta tempat sampah,” ungkap Yansur Pakaya.

Selain itu menurut Yansur, ada pula bantuan berupa penguatan sumber daya warga sekitar lewat program pembinaan menyelam, fakta Hiu Paus hingga pelatihan usaha lainnya. “Tentunya kedepan kami berharap sentuhan dalam rangka penataan lokasi agar lebih menarik lagi,” tandas Yansur.

Sementara itu, setelah tenar dengan keberadaan hiu puas. Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui Dinas Perikanan dan Kelautan bersama Dinas Pariwisata langsung menata kawasan Botubarani. Awalnya, ketika banyak pengunjung, perahu nelayan yang mengangkut wisatawan berebut untuk ke laut.

Kondisi ini yang dinilai mengkhawatirkan karena bisa menyebabkan hiu puas hengkang dari bibir pantai Botubarani. “Kita atur, awalnya kita buat zonasi untuk mempermudah kawasan hiu puas,”ujar Kadis Perikanan dan Kelautan, Sutrisno. Tadinya di tengah laut, terdapat 20-25 kapal nelayan, saat ini kata dia dibatasi, sehingga hiu puas juga tidak merasa terusik.

“Awalnya juga para nelayan gunakan mesin katinting, itu tidak bisa lagi. Karena selain bensin yang tumpah ke laut, baling-balingnya juga mengancam hiu paus,”terang Sutrisno.

Ia bersama Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang), Kementerian Perikanan RI juga telah melakukan riset tehadap hiu jinak ini. Memang kata Sutrisno, hiu paus Botubarani menetap karena adanya sumber makanan di kawasan itu. Pemberian makanan berupa limbah udang menyebabkan hiu paus mengasosiasikan manusia dengan sumber makanan, yang mengakibatkan hiu paus berenang mendekati manusia.

“Mereka akan mendekat, tahu akan ada makanan yang dibawa,”tandasnya. Hasil riset kata Sutrino menunjukan, jika perairan Botubarani sangat baik untuk hiu paus. Temperaturnyta juga tercatat 30,8 derajat celcius.

Hiu paus bisa hidup di perairan tropis dan sub tropis 21-32 derajat celcius. Ia menjelaskan, Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menerbitkan pedoman umum monitoring hiu paus di Indonesia, serta telah menetapkan hiu paus sebagai jenis ikan yang dilindungi secara penuh.

“Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 18/KEPMEN-KP/2013 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Hiu paus,”tandasnya. Dengan begitu, kata Sutrisno, semua pihak wajib melindungi hiu paus.(roy/csr/tr-45/tro/hargo)