Hargo.co.id, GORONTALO – Budaya ternyata tak hanya bisa dirawat, tetapi juga menghasilkan. Hal itu bisa dilihat pada Pameran Motiyango yang digelar di Auditorium Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Dimana, pada acara tersebut, mahasiswa Ilmu Komunikasi mampu mendatangkan keuntungan hingga ratusan ribu rupiah dalam sehari.
Pameran Motiyango menjadi panggung bagi kreativitas mahasiswa Ilmu Komunikasi UNG untuk mengekspresikan gagasan sekaligus menguji keberanian berwirausaha. Kegiatan ini diselenggarakan pada 17–18 Desember di dengan menghadirkan atmosfer pameran yang hidup sejak hari pertama pelaksanaannya.
Menurut Ketua Panitia Pameran Motiyango, Reyhan Praditya, kegiatan diikuti oleh sekitar 150 mahasiswa dari semester I, III dan V Jurusan Ilmu Komunikasi UNG. Pameran Motiyango menjadi bagian dari pelaksanaan Ujian Akhir Semester (UAS) yang dirancang tidak hanya menilai kemampuan akademik, tetapi juga kreativitas dan kerja kolektif mahasiswa.
Beragam produk dipamerkan sekaligus diperjualbelikan dalam kegiatan ini. Mulai dari baju, merchandise, poster, gelang, kalung, hingga gantungan kunci.
Seluruh karya mengusung tema tradisional dan peninggalan nasional yang dikemas secara kreatif. Antusiasme pengunjung terlihat jelas sejak pembukaan, bahkan satu kelompok mahasiswa dilaporkan mampu meraih keuntungan hingga Rp300 ribu hanya dalam satu hari.
Pameran Motiyango secara resmi dibuka oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial UNG, Zuchri Abdussamad,
yang turut dihadiri Wakil Dekan III, Ketua Jurusan, dosen penanggung jawab, serta dosen tim teaching.
Meski berlangsung meriah, pelaksanaan pameran tidak sepenuhnya tanpa hambatan. Beberapa kendala teknis muncul selama kegiatan berlangsung, terutama berkaitan dengan kesiapan peserta sebagai mahasiswa yang juga tengah menjalani UAS.
Namun, kendala tersebut dinilai tidak terlalu mengganggu jalannya acara secara keseluruhan.
“Kendalanya sebenarnya tidak terlalu banyak. Alhamdulillah, cuman beberapa kendala dari mahasiswa yang menjadi salah satu peserta UAS itu dari kurangnya fasilitas meja, keterlambatan membawa poster-poster mereka,” ungkap Reyhan.
Dia berpesan agar mahasiswa tidak pernah lupa melestarikan budaya yang ada,
karena dari budaya-budaya tersebut menunjukkan identitas kita sebagai makhluk sosial dan sebagai orang setempat.
“Harapan untuk kegiatan selanjutnya, adik-adik mahasiswa Ilmu Komunikasi bisa menyukseskan acara yang lebih besar lagi dan membawa berbagai hal baru dalam pameran daripada yang sekarang ini,” harap Reyhan.(MG-07)












