Hargo.co.id – Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto setahun terakhir rajin mengikuti sejumlah race di tanah air. Berbagai event lari juga digelar di Bogor. Fasilitas baru bagi runners pun disiapkan. Semua dilakukan karena Bima ingin menjadikan Bogor The City of Runners.
Obsesi Bima Arya untuk menjadikan Bogor sebagai kotanya pelari itu bukan isapan jempol. Janjinya, dalam tiga tahun, akan terwujud lajur khusus bagi pelari di pusat kota yang selama ini dikenal cukup macet tersebut. Selain itu, karya nyata Bima adalah merenovasi Taman Sempur di pusat kota sebagai tempat yang representatif untuk berolahraga.
Saat ini, kata Bima, Bogor belum cukup layak memberikan jalur pelari di dalam kota. Jalur pedestrian yang dia bangun di sepanjang putaran Kebun Raya Bogor belum bisa memenuhi antusiasme warganya.
Bima juga mempunyai keinginan besar untuk bisa menjadikan kotanya lebih ramah buat pelari. Sejumlah venue lari di sekitar Bandung menjadi inspirasi Bima untuk menganggarkan perbaikan venue lari di Bogor. â€Lintasan lari di Taman Sempur tahun depan sudah bisa diganti sintetis,†katanya. Idenya berasal dari lapangan Gasibu Bandung yang memiliki lintasan sintetis yang sangat nyaman bagi runners.
Tidak cukup sampai di situ, sejumlah event lari terus digalakkan di Bogor. Sabtu–Minggu kemarin Bima juga membuka eventultra marathon Kebun Raya Bogor (KRB) 200K. Event tersebut melintasi Kompleks KRB dan jalur pedestrian di sisi luar. Dibutuhkan waktu 36 jam untuk menuntaskan race itu.
Pada Juli mendatang, Pemkot Bogor juga akan memberikan support penuh buat penyelenggaraan Bogor Sundown Marathon. Selain itu, event lari hampir di setiap akhir pekan juga berusaha diikuti Bima dan timnya.
Bima tidak hanya berkonsentrasi membangun sarana dan prasarana bagi pelari. Dia juga memberikan contoh. Setiap akhir pekan, dia jarang absen berlari bersama penggemar lari. Kegiatan tersebut dimulai dari titik kumpul Balai Kota Bogor. Kebetulan, kemarin pagi Bima mendapatkan tamu khusus, wakil gubernur Jakarta terpilih Sandiaga Uno, yang sengaja menyempatkan waktu untuk menikmati suasana pagi Bogor.
Setidaknya, dalam setiap pekan, minimal dalam lima hari, Bima menyempatkan berlari pagi. â€Sebagian besar di outdoor, tetapi kalau jadwal padat hanya bisa di treadmill,†ujarnya kepada Jawa Pos.
Sebagai wali kota, Bima mencoba mendorong lingkungannya untuk tertular virus lari. Salah satu kebijakannya, melakukan assessment unik kepada 68 Lurah di wilayah Kota Bogor. Bima memberlakukan tes fisik kepada mereka.
â€Meskipun tidak menjadi assessment langsung, itu menjadi bagian pertimbangan kami dalam melakukan penilaian kinerja,†jelas pria 44 tahun tersebut. Langkah itu didasari untuk bisa melayani masyarakat Bogor lebih maksimal.
Bagi Bima, dengan kondisi yang lebih fit, setiap lurah di wilayahnya bisa lebih optimal memantau langsung masyarakatnya. â€Gimana bisa cepat blusukan kalau mereka perutnya pada buncit,†ucapnya.
Sejak kecil, Bima merupakan penggemar olahraga. Hampir semua jenis olahraga dia suka, termasuk lari. Tetapi, kegiatan berolahraga sempat dia tinggalkan saat dia berkuliah di Universitas Parahyangan, Bandung. Kesibukan berorganisasi membuatnya sedikit melupakan olahraga.
Namun, semua berubah saat dia mengambil pendidikan lanjutan di Melbourne, Australia. â€Saat di Australia, minimal tiga kali seminggu berolahraga. Lari, ngegym, dan sepak bola,†katanya. Khusus lari, Bima menekuninya lebih serius sejak enam tahun yang lalu.
Awalnya, dia hanya berlari sendirian di sekitar kompleks rumahnya. Karena bergaul dengan komunitas lari di Bogor pula, dia mengikuti sejumlah event lari. Meskipun belum merasakan full marathon, Bima cukup mengapresiasi sejumlah race di tanah air. Tahun lalu Bima merasakan race Jakarta Marathon dan Bali Marathon. Tahun ini dia sudah tampil di Jogja Marathon dan Mekaki Marathon.
â€Sementara ini, paling jauh masih half-marathon. Rata-rata ikut yang 10K,’’ ungkapnya. Di Jakarta Marathon dia finis 10K dengan waktu 1 jam 4 menit 38 detik. Di Jogja Marathon, Bima mencatatakan waktu 1 jam 4 menit 57 detik. Untuk half-marathon atau 21,0975 km, dia mencicipi di Bali Marathon dengan catatan waktu 2 jam 33 menit 53 detik. Semoga hal tersebut bisa ditiru kepala daerah lain di Indonesia. (hg/nap/c20/tom)
