Banyak warga yang menempati pengungsian mengeluh dengan tidak meratanya bantuan yang dibagikan. Di Kota Palu maupun Donggala, ada hampir ribuan posko yang membuat petugas kocar-kacir dan kelimpungan untuk melayani para pengungsi.
Belum lagi dengan penjarahan bantuan oleh warga, yang menghambat proses penyaluran. Selain itu, infrastruktur dasar yang menjadi kebutuhan utama masyarakat lumpuh dan tidak beroperasi.
Air, Listrik dan BBM, menjadi kebutuhan langka dan sangat mahal. Sudah menjadi pemandangan biasa ketika melihat warga yang lalu lalang dengan membawa jerigen.
Untuk memulihkan kondisi Kota Palu, salah satu upaya proiritas yang dilakukan pemerintah dengan mempercepat pemulihan listrik. Sejauh ini baru sekitar 30 persen jaringan listrik menyala. Tapi itupun baru diarahkan untuk tempat-tempat vital seperti rumah sakit, kantor PMI serta fasilitas komunikasi.
Di pelosok, warga membanjiri sungai-sungai dengan aliran air yang terbilang sedikit juga kotor. Untuk mandi dan buang air besar. Masalah kebersihan maupun kesehatan sudah tak lagi menjadi penting bagi masyarakat.
Begitu pula di tiap SPBU, berjejer rapi kenderaan. Lengkap dengan jerigen. Antriannya bisa memanjang hingga berpuluh-puluh kilometer. Mereka rela mengantri hingga 1x 24 jam. Hanya untuk bisa mendapatkan 1 liter bensin.
Warga hanya diperhadapkan dengan dua pilihan. Mengantri dengan harga normal, atau membeli di luar SPBU dengan harga selangit, hingga 100 ribu/liter. Ini termahal di Indonesia. Bahkan saking mahal dan langkanya BBM, masyarakat menyemut di SPBU, mereka bahkan ada yang merusak tangki BBM di SPBU, lalu menimba sendiri BBM dari tangki yang ditanam di dalam tanah.
Begitu kronisnya persoalan di sini, banyak warga yang sudah tidak tahan berlama-lama di Kota Palu. Masih terus munculnya gempa susulan makin mendorong warga untuk segera ke luar dari Palu.
Di Bandara Mutiara Sis Aljufri, warga berebutan naik ke pesawat Hercules milik TNI AU. Padahal pesawat ini awalnya hanya diperuntukkan untuk mengevakuasi korban bencana yang mengalami luka parah. Upaya eksodus juga dilakukan lewat jalur darat. Tapi terkendala dengan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM).
Dengan semua permasalahan itu. Kota Palu maupun seluruh wilayah yang terdampak bencana di Provinsi Sulawesi Tengah, sangat membutuhkan bantuan dan uluran tangan kita semua. Mari pikul beban mereka bersama-sama. Dan untuk memulihkan bumi kaili seperti sediakala. #PrayForSulteng. (tr58/gp/hg)
