Kamis, 2 Desember 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Bau Bangkai di Mana-mana, Palu Bagai Kota Mati 

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo Headline , pada Jumat, 5 Oktober 2018 | 03:00 AM Tag: , ,
  

Hargo.co.id, PALU -Seandainya bencana maha dahsyat itu tidak terjadi, mungkin isak tangis dan duka nestapa tidak akan terlihat. Yang terlihat mungkin tawa riang dan suka cita. Suka cita dan kegembiraan seisi Kota dalam memeriahkan HUT Palu ke-40.

Sehari sebelum gempa berskala besar ; 7,4 SR yang disusul tsunami, warga Kota Palu baru saja merayakan HUT Kota Palu ke-40. Untuk memeriahkan Ulang Tahun Kota Palu, Pemerintah Kota bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan Kementerian Pariwisata, rencananya akan menyelenggarakan Festival Pesona Palu Nomoni (FPPN) 2018 selama tiga hari. Mulai 28-30 September. Festival ini sarat akan budaya seperti pelarungan sesajen ke laut.

Kegiatan ini sudah menjadi event pariwisata tahunan di Palu. Dalam festival itu, berbagai pertunjukan seni dan budaya, termasuk pertunjukkan seruling tradisional, kolosal lavole dan ritual adat Balia dari suku Kaili akan digelar. Panggung tradisional gimba dibangun di sepanjang teluk Palu yang di dalamnya termasuk pantai Talise yang telah menjadi salah satu ikon wisata di Palu.

Festival Palu Nomoni menjadi event wisata unggulan tidak hanya bagi Pemkot Palu. Tapi juga Pemprov Sulawesi Tengah. Agenda ini sudah ditunggu-tunggu. Karena dalam penyelenggaraan festival Nomoni di tahun-tahun sebelumnya, mampu menyedot 800 ribu wisatawan, sudah termasuk 500 ribu wisatawan mancanegara ke Sulawesi Tengah.

Namun siapa sangka, gegap gempita kemeriahan HUT Kota Palu yang telah didesain sedemikian apik, lenyap seketika. Setelah Kota Palu dengan salah satu julukannya Bumi Tadulako itu, diterjang gempa dan tsunami pada Jumat (28/9). Atau, sehari setelah HUT Kota.

Setelah diterjang bencana maha dahsyat, kehidupan di Kota Palu benar-benar lumpuh. Kelumpuhan itu tidak hanya dirasakan di Palu tapi juga daerah-daerah lain di Sulawesi Tengah yang juga mengalami bencana.

Seperti Kabupaten Sigi, Donggala dan Parigi Moutung. Tapi hancurnya sendi-sendi ekonomi di Palu bisa berimbas luas dan lama bagi ekonomi Sulawesi Tengah. Palu sebagai ibukota provinsi selama ini menjadi jantung ekonomi Sulawesi Tengah. Sebagian besar isi kota yang porak poranda, membuat Kota ini serasa Kota Mati.

Listrik tak ada, air bersih sangat sulit, bahan bakar begitu langka, toko-toko tutup (sebagian dijarah), sambungan komunikasi putus. Yang paling miris, jenazah ada dimana-mana yang membuat bau bangkai begitu menyengat.

Data terakhir Badan Nasional Penanggulangan Bencana, jumlah korban meninggal sudah mencapai 1.407 orang. Ada 799 orang masih menjalani perawatan di rumah sakit. Sementara jumlah korban hilang tercatat sebanyak 90 orang. Ada sekitar 65.000 rumah warga yang rusak.

Rupanya bencana yang terjadi, tidak hanya meruntuhkan gedung-gedung, tapi juga membunuh sendi-sendi kehidupan di dalamnya. Berada di Palu, layaknya berada di wilayah konflik. Konflik batin.

Setibanya, awak Gorontalo Post di Palu, Senin (1/10), suara sirene mobil-mobil pengangkut jenazah tidak pernah berhenti berdengung di jalanan. Bau amis bangkai, bertebaran di udara. Di tiap sudut-sudut kota. Diperkirakan masih ada sekitar ratusan atau bisa saja ribuan korban yang belum dievakuasi. Masih terperangkap di reruntuhan bangunan dan tertimbun lumpur.

Teriakan kata haus dan lapar juga tidak kalah membuat riuh kota ini. Suara-suara ini datang dari pengungsi di pelosok-pelosok hingga pusat kota. “Dikemanakan bantuan-bantuan. Sejak hari pertama kami tidak pernah dapat bantuan. Jangan biarkan kami mati kelaparan,” teriak salah seorang  pengungsi yang geram karena tidak mendapat bantuan.

(Visited 1 times, 1 visits today)

Laman: 1 2


Komentar