Friday, 17 September 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Berawal dari Panti Asuhan, Al-Islam Kini Tempat Mondok Ratusan Santri

Oleh Berita Hargo , dalam Podcast , pada Wednesday, 24 March 2021 | 14:05 PM Tags: , , ,
  Haji Ramli (kiri) saat menjadi tamu pada Femmy Udoki Podcst beberapa pekan lalu. (Foto: Istimewa/Tangkapan Layar)

Hargo.co.id, GORONTALO – Ada cerita menarik sebelum Pondok Pesantren Al-Islam sebesar yang dilihat sekarang. Yakni, awalnya hanya sebuah panti asuhan yang menampung sedikit orang.

Ini terungkap ketika pengelola Pondok Pesantren Al-Islam, Ramli Anwar hadir sebagai narasumber pada Femmy Udoki Podcast dengan Youtube Femmy Udiki, pada Februari 2021 lalu. Pria yang akrab disapa Haji Ramli ini, menceritakan awal mula berdirinya Pondok Pesantren Al-Islam.

“Bapak saya (Haji Anwar-red) mengajak kami anak-anaknya untuk duduk bersama. Bapak merencanakan untuk membuat panti asuhan, guna membantu anak-anak yatim piatu,” kata Haji Ramli.

Saat itu, menurut Haji Ramli, disepakati untuk membuat panti asuhan, tepat pada 12 Desember 2012. Tiga tahun berikutnya, bapak Haji Ramli (Haji Anwar-red) kembali mengumpul anak-anaknya. Pada rapat keluarga itu, disampaikan bahwa panti asuhan hanya menampung sedikit orang.

“Bapak saya ingin lebih besar lagi agar daya tampung juga banyak. Maka disepakati untuk mendirikan pesantren. Kami beri nama Pondok Pesantren Al-Islam,” kata Haji Ramli.

Tahun pertama sejak berubah wujud menjadi pesantren, Al-Islam berhasil menampung siswa sebanyak 27 orang tanpa dipungut biaya. Tahun berikutnya, sudah memungut biaya, namun sesuai kemampuan orang tua.

“Saat itu, ada yang mengisi daftar bahwa hanya mampu membayar Rp 20 ribu, dan paling tinggi Rp 200 ribu per bulan. Namun, untuk siswa yatim, yatim piatu dan kurang mampu, masih gratis,” cerita Haji Ramli.

Kebijakan itu lantas memunculkan cerita. Yang mana, siswa yang datang mondok diantar dengan menggunakan mobil. Selain itu, uang jajan setiap minggu sebanyak Rp 100 ribu. Lebih banyak uang jajannya dari pada uang untuk mondok di Al-Islam.

Tahun berikutnya, yayasan lantas mengeluarkan kebijakan baru, yakni siswa yang mampu dikenakan biaya pengganti uang makan sebanyak Rp 400 Ribu per bulan. Bahkan pada tahun ini, biaya mondok sebesar Rp 500 ribu per bulan, itu bagi keluarga mampu. Sementara untuk anak yatim, yatim piatu dan kurang mampu, masih gratis.

“Kini Pondok Pesantren Al-Islam dihuni 400 lebih santri, dan sebanyak 60 orang diantaranya adalah siswa tak mampu. Alhamdulillah, semua ini atas doa dan bantuan masyarakat Gorontalo,” kata Haji Ramli.

Terkait Warkop Amal? Haji Ramli menceritakan bahwa semua keuntungan dari Warkop Amal disumbangkan ke pondok pesantren tersebut, yang nota benenya juga menampung puluhan anak kurang mampu. Bahkan kini sudah membuka tempat cuci mobil, yang konsepnya sama dengan Warkop Amal.

“Untuk 2020 lalu, Warkop Amal dan Tempat Cuci Mobil telah mengumpulkan keuntungan sebanyak Rp 289 Juta lebih, dan itu sudah diserahkan ke Pondok Pesantren Al-Islam,” kunci Haji Ramli mengakhir pembicaraannya terkait dengan pesantren tersebut. (inda/ung/hargo)

(Visited 6 times, 1 visits today)

Komentar