Gerhana matahari parsial (sebagian) dialami oleh bagian bumi yang masuk ke penumbra bulan. Adapun gerhana matahari cincin terjadi jika bulan dan bumi terletak pada jarak terjauh (aphelium). “Kita di Indoensia termasuk di Gorontalo akan mengalami Gerhana Matahari Total itu,†terangnya.
Masih menurut Fathuri, peristiwa GMT sendiri memiliki banyak manfaat. Bagi Badan Penelitian misalnya sering dimanfaatkan sebagai bahan riset tentang pengamatan lidah semburan energi pada atmosfir matahari yang sering disebut sebagai corona, yang tidak pada saat normal corona ini tidak mungkin nampak karena cahaya matahari yang sangat menyilaukan. Dari pengamatan corona ini para peneliti dapat merinci energi yang dikeluarkan matahari.
Menurutnya pula, kondisi cuaca mikro yang akan mengalami perubahan sesaat (ordo jam dan menit) sebagai akibat gerhana juga akan dilakukan di beberapa stasiun pengamat cuaca (stasiun meteorologi) milik BMKG termasuk di Stasiun Meteorologi Djalaluddin Gorontalo.
Suhu, radiasi matahari, kelembapan udara, arah dan kecepatan angin serta tekanan udara biasanya akan mengalami perubahan pada saat terjadi nya gerhana walaupun hanya sesaat dan kembali normal setelah terjadinya gerhana. “Menarik diamati pula perilaku hewan dan tumbuhan terhadap pengurangan suhu, dan intensitas cahaya saat gerhana.
Hewan diurnal (aktif di siang hari) dan nokturnal (aktif di malam hari). Mereka biasanya akan menunjukkan perilaku ganjil saat terjadinya gerhana,†tuturnya. (and/hargo)
