Saturday, 25 September 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Demi Kemanusiaan, Kuasa Hukum Minta Polda Metro Tangguhkan Penahanan Pemalsu Surat

Oleh Aslan , dalam Kabar Nusantara , pada Saturday, 13 May 2017 | 04:00 AM Tags: ,
  

Hargo.co.id - Pasangan suami istri Alvyna Jayanti Ellyzart dan Louis Gunawan Khoe kini ditahan di Polda Metro Jaya. Keduanya adalah tersangka kasus dugaan pemalsuan surat dan penggelapan jabatan.

Menurut kuasa hukum keduanya Priber Sitinjak setelah ditahan sebulan lamanya, pihaknya mencoba mengajukan penangguhan penahanan. Namun tidak digubris oleh penyidik Polda Metro Jaya.

Padahal kata dia, pasangan itu memiliki dua anak yang masih kecil. Satu berusia empat bulan bernama Davina Aishwarya Khoe dan empat tahun bernama Edward Gunawan Khoe yang menderita kelebihan autis. Dia mengharapkan dengan alasan kemanusiaan, salah satu dari dua kliennya itu untuk ditangguhkan penahanannya.

“Sepanjang malam tadi sampai siang anak ini nangis ingin ketemu ibunya, jadi kebetulan, ibunya dan bapaknya itu ditahan oleh penyidik Subdit I Kamneg dalam perkara pemalsuan surat dan  penggelapan dalam jabatan,” kata dia seraya menggendong anak korban di Polda Metro Jaya, Jumat (12/5).

Menurut dia, anak pelaku harus mendapatkan kasih sayang dari orangtua. Karena bila terpisah sejak kecil, maka psikologis anak nanti akan terganggu. “Sudah kita ajukan penangguhan, tapi belum juga direspons,” ucapnya.

Dia berharap Kapolda Metro Jaya Irjen Mochammad Iriawan dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian agar bisa melihat penangguhan itu dari sisi kemanusiaan. Apalagi sampai kedua orangtua langsung ditahan, selama ini kedua anak itu diurus oleh seorang baby sitter, sehingga anak pelaku sangat kurang mendapat perhatian.

“Kami tidak akan menghalangi proses penyidikan, silakan. Kita hanya minta menggungah hati nurani penyidik agar boleh melihat kondisi kedua anak ini,” sambung dia.

Dia hanya meminta salah satu dari dua kliennya ditangguhkan penahanannya. “Kami sudah berdiskusi, kami tangguhkan Alvyna Jayanti, mau ditahan suaminya terserah, supaya bisa merawat anaknya,” tambah dia.

Sementara untuk kasusnya kata dia adalah masalah kredit modal kerja yang diperoleh dari Bank Papua oleh PT Fastrade Internasional yang direkturnya dijabat Ricard David Wasoruntu. Sementara Alvyna Jayanti selaku komisaris.

“Singkat cerita begitu uang kredit modal kerja cair dari Bank Papua terkait bisnis perdagangan minyak CPO (crude palm oil) dan kernel yang disuplai oleh seorang anggota DPR yang diduga bernama Indra P Iamtupang,” beber dia.

Ternyata kata dia uang ini begitu cair dalam perjalanannya diduga ditipu digelapkan oleh suplier. Sehingga kredit pembayaran atau pengembalian kepada bank itu macet karena pihak ketiga tadi modalnya tidak bisa kembali.

“Klien kita sudah itikad baik, duduk bersama dalam proses ajuakan kredit oleh dirut bukan klien saya, dana ada jaminannya tanah seluas 200 hektare ada jaminan. Kami sudah minta akan selesaikan akan tanggung jawab,” bebernya. (hg/elf/JPG)

(Visited 1 times, 1 visits today)

Komentar