Hargo.co.id Boalemo – Salah satu dusun terpencil yang berada di bagian utara pelosok Kecamatan Dulupi yaitu Moliliulo, merupakan sebuah dusun yang terbilang tertinggal, padahal jika dilihat dari letak geografisnya, daerah ini merupakan daerah yang subur. Namun hal ini tidak ditunjang dengan fasilitas infrastruktur yang memadai. Meskipun pembangunan infrastruktur telah giat dilaksanakan oleh pemerintah daerah, namun masih separuh akses menuju moliliulo yang memiliki jalur maut.
Betapa tidak, siapapun warga yang telah menjajal untuk menuju lokasi dusun Moliliulo yang merupakan wilayah Desa Tangga Barito, pasti mengenal dua tanjakan maut yakni, kilometer 32 dan Kilometer 37.
Tampilan geografis akses ini, berupa tanjakan kasar dengan tekstur jalur berupa material yang juga cukup kasar sehingga bagi pengendara yang kurang profesional seketika akan ciut nyalinya ketika melihat akses ini.
Djam’an Adam, salah seorang petani yang memiliki lahan Dusun Moliliulo menuturkan, buruknya akses ke Dusun Moliliulo tersebut, membuat tarif kendaraan untuk menuju ke lokasi cukup mencekik. Meskipun jauh dibawah tarif menuju lokasi Kecamatan Pinogu Kabupaten Bone Bolango.
“Kalau ojek, bisa Rp 100 ribu, dan untuk tarif mobil angkutan pasar, biasanya berkisar Rp 30 hingga Rp 35 ribu per orang,” tuturnya. Buruknya akses juga membuat nilai komoditas pertanian dari Dusun Moliliulo sedikit murah dibanding harga komoditas di wilayah yang aksesnya mudah.
“Moliliulo adalah wilayah yang subur,” ujarnya. Sementara itu, Ri’i, salah seorang pengemudi taksi desa menuju Moliliulo menuturkan, akses ke Desa Moliliulo sendiri tidak seberapa jauh, hanya saja resikonya yang cukup membahayakan.
Kalau jaraknya dari Kecamatan Paguyaman hanya sekitar 35 kilometer, tetapi tarifnya memang setara tarif angkutan dari Kecamatan Tilamuta-Kota Gorontalo yang berjarak kurang lebih 120 kilo
kilometer dengan jalur Trans Sulawesi.” Utaranya.
Menurut Ri’i tidak jarang untuk keselamatan penumpang, terkadang saat melintasi dua tanjakan maut tersebut, para penumpang harus turun dan berjalan kaki pada tanjakan berat sejauh lebih dari 1 kilo meter. “Jika kelebihan bawaan juga, beberapa harus di pikul agar selamat,” tandas Ri’i. Menurutnya, tidak jarang pula, dulu sempat terjadi beberapa kali kecelakaan maut di akses tersebut.(gip/hargo)
