Jumat, 19 Agustus 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Harga Menurun, Petani Terus Produksi Garam

Oleh Aslan , dalam Ekonomi , pada Rabu, 23 Agustus 2017 | 15:37 Tag: , ,
  GIGIH: Petani mengairi lahan garam di Desa Nambakor, Kecamatan Saronggi, Sumenep, Selasa (23/8). (FATHOR RAHMAN/Radar Madura/JawaPos.com)

Hargo.co.id SUMENEP – Sejumlah petani di Sumenep resah dengan turunnya harga garam. Keresahan petani bertambah karena pemerintah melakukan impor garam. Meski dilingkupi perasaan resah, petani tetap semangat memproduksi garam.

Harga garam beberapa hari terakhir ini Rp 1,5 juta per ton. Padahal, sebelumnya harga garam bisa mencapai Rp 3,9 juta per ton. ”Kami masih berharap harga garam membaik kembali,” kata Ahmadi, 46, petani garam, asal Desa Pinggir Papas, Kecamatan Kalianget, Senin (22/8).

Sementara itu, Direktur Produksi PT Garam Budi Sasongko mengaku belum bisa memberikan penjelasan terkait turunnya harga garam rakyat. Dia juga tidak mau berkomentar terkait garam impor.

Dia mengaku, PT Garam masih berunding secara internal. ”Jadi, kami belum bisa menentukan,” katanya.

Sebagaimana diketahui, pemerintah mengimpor 75 ribu ton garam. Garam dari luar negeri tersebut masuk Indonesia diangkut selama tiga tahap melalui jalur laut. Tahap pertama, 22.500 ton garam tiba pada Kamis (10/8). Garam tersebut mendarat di Pelabuhan Ciwandan, Banten.

Kemudian, 25 ribu ton garam kembali tiba di Indonesia pada Jumat (11/8). Garam impor tahap dua ini tiba malam hari di Surabaya. Tahap ketiga, 27.500 ton garam impor tiba di Indonesia yang diangkut dengan kapal MV Golden Kiku di Dermaga Jamrud, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Garam yang diangkut pada tahap tiga itu akan didistribusikan ke sejumlah daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan wilayah timur Indonesia. Garam tersebut tidak dibagikan kepada sembarang unit usaha. Garam impor itu bakal disalurkan ke industri kecil menengah (IKM) yang direkomendasi pemerintah.

(mr/fat/pen/hud/luq/bas/JPR/hg)

(Visited 5 times, 1 visits today)

Komentar