Banyak kasus yang belakangan terjadi merusak moral dan ahlak anak bangsa. Contonya narkoba, seks bebas, pemerkosaan dan pembunuhan, pelaku maupun korban juga tak jarang adalah anak dibawah umur. Masih terkiat moral, Susanto mengatakan, munculnya paham radikalisme di kalangan masyarakat juga dinilainya karena persoalan moral.
“Banyak yang putus sekolah hanya gara-gara ekonomi. Makanya apa pun bentuknya, program pendidikan harus didukung, saya menilai dengan pendidikan kita bisa bangkit dari keterpurukan moral,” kata Susanto.
Sementara itu, Ketua Women Institute for Research and Empowerment of Gorontalo (WIRE-G) Sri Dewi Nani mengatakan, momen hari kebangkitan nasinal (Harkitnas) merupakan refleksi perjuangan politik dan pergerakan kebangsaan. Harkitnas mengandung nilai historis pergerakan organisasi pemuda di Indonesia.
“Apapun profesi kita saat ini, momen Harkitnas sudah sejatinya harus mampu menumbuhkan rasa nasionalisme dalam jati diri kita sebagai manusia Indonesia,” jelas Sri Dewi.
Lebih lanjut disampaikan Sri Dewi, sejarah mencatat di antara tokoh kebangkitan nasional adalah R.A Kartini. Perjuangannya menjadi simbol kebangkitan kaum perempuan di tanah air.
