“Semangat Kartini ini harus menjadi spirit. Cikal bakalnya adalah bangkit. Maka perempuan saat ini harus bangkit dari keterpurukan. Harus ada perubahan mindset dalam bentuk attitude dan skill,” Kabag Hukum Pemkab Gorontalo itu.
Saat ini kata Sri Dewi, banyak hal yang masih menjadi masalah nasional yang melanda masyarakat kaum perempuan. Misalnya tentang kejahatan seksual dan narkoba.
Pemerhati Perlindungan Perempuan dan Anak DR. Lilan Dama menyebut miris dengan kondisi saat ini, dimana banyak terjadi tindak kekerasan terhadap anak dan perempuan. Hal itu harusnya menjadi cacatan dalam momen hari kebangkitan saat ini. Ia menyerukan untuk bangkit melawan tindakan yang merugikan perempuan dan anak.
“Sudah seharusnya menjadi penyemangat tersendiri bagi para pemuda untuk tetap melakukan hal -hal yang berguna bagi bangsa dan negara,”terangnya.
Menurutnya masalah-masalah sosial yang ada saat ini, harus dilawan dengan gerakan produktif, yang bisa memberikan edukasi kepada masyarakat. “Dan itu peran dari para pemuda,” kata ketua Pusat Studi kajian perempuan dan anak UNG ini.
Sosiolog Universitas Negeri Gorontalo Funco Tanipu berpendapat, setelah 108 tahun peringatan Hari Kebangkitan Nasional, bukan semakin bangkit tetapi malah terjadi penurunan kesadaran dan kecintaan terhadap bangsa.
Seperti di level lokal, kesadaran dan kecintaan kepada bangsa dan negara semakin luntur bukan semakin bangkit. Kesadaran yang minus ini akibat sikap cinta pada bangsa dan negara yang semakin berkurang.
