Minggu, 4 Desember 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Herson Mohamad, Berharap Tak Lagi Bawa Bentor Usai Asian Games

Oleh Aslan , dalam Headline Sportivo , pada Rabu, 8 Agustus 2018 | 09:30 Tag: , ,
  

Sejumlah medali dari berbagai kejuaraan internasional diraih Herson Mohamad, atlet sepaktakraw kebanggaan Indonesia. Ia bersama rekan se-timnya, seperti Hendra Pago dan Abdul Halim Rajiu langganan menjuarai iven sepaktakraw di dalam maupun luar negeri. Kini, Herson bersiap menghadapi pesta olahraga Asia, Asian Games.

Mohamad Yasin / Gorontalo

Dalam beberapa bulan terakhir, Herson Mohamad melakukan pemusatan latihan sebagai tim nasional sepaktakraw dalam rangka Asian Games di Jakarta dan Palembang, tahun ini. Herson punya keyakinan yang kuat, ia dan timnya bisa mengibatkan merah putih, pada ajang olahraga terbesar kedua di dunia setelah Olympiade ini.

Nama Herson sudah lama masuk dalam Pelatnas Takraw, ia juga tercatat sebagai atlet nasional. Posisi spiker dan umpan saat laga takraw kerap membuat lawan kelabakan. Hal ini pula yang mengantarkan Indonesia juara pada Sea Games di Malaysia tahun lalu. Selain Sea Games, ia juga telah menjuarai kerjauaan dunia sepaktakraw, Asean Beach Games, serta Asean Shools Games. Untuk skala nasional, tim takrawnya menjuarai PON 2012 dan PON 2016.

Deretan prestasi itu, ternyata tak lantas mengubah nasib Herson Mohammad. Usai berlaga di berbagai negara dan berhasil mengibarkan merah putih, maupun tampil di sejumlah daerah dan pulang membawa prestasi, tapi kondisi Herson tak banyak berubah. Terutama dalam hal kesejahteraan.

Hal ini juga membedakan, tidak semua atlit peraih emas dalam berbagai iven dunia, mendapat perlakuan sama. Tentu, berbeda dengan sprint dunia Lalu Mohamad Zohri yang belakangan heboh karena menjadi tercepat dalam lomba lari 100 meter tingkat dunia. Prestasi Zohri, seketika mengubah nasibnya. Pemerintah dari pusat hingga daerah, berlomba memberikan apresiasi dengan beragam bantuan untuk Zori.

Usai kembali ke tanah air pasca helatan Sea Games 2017 lalu, Herson bahkan terpaksa menjadi ‘om Bentor’. Ia mengisi hari-harinya dengan menjadi pengemudi bentor di Gorontalo. Jelas, bukan tanpa alasa. Beban keluarga dan tugas seorang ayah yang kini memiliki dua orang anak tersebut mengharuskan Herson berjuang demi sebongkah rejeki untuk istri dan anak-anaknya.

Perjalanan karir dan prestasi Herson sebagai atlet sepaktakraw memang bisa dibilang tidak diraih dengan mudah. Perjuangan awal dimulai sejak ia tergabung dalam Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) sekitar medio tahun 2008-2009 silam bersama rekannya yang kini sama-sama membela timnas Abdul Halim Rajiu dan Rezky Pago.

Meski kemudian ia ditempa dalam PPLP, namun perjuangan lain demi mengasah kemampuan dengan tampil dipertandingan-pertandingan antar klub dibeberapa pelosok daerah di Gorontalo menjadikan Herson matang secara baik, terlebih sejak pelajar mendapat genjotan ilmu dari dua pelatih sepaktakraw andalan Gorontalo yakni Asry Syam dan Herson Taha.

Alhasil, segudang prestasi baik dari tingkat provinisi dan nasional berhasil diraih. Prestasi dari jenjang pelajar hingga dewasa juga sukses diperoleh Herson hingga saat ini memperkuat timnas sepaktakraw Indonesia diajang Asean Games. Hanya saja, prestasi yang diperolehnya tidak sejalan dengan masa depannya pasca menikah. Herson harus banting tulang lebih keras untuk bisa menafkahi keluarganya, hingga terpaksa beberapa waktu lalu usai mewakili tim PON Gorontalo dan timnas Sea Games harus jadi driver bentor untuk menyambung hidup.

Herson sendiri sejatinya sudah berusaha mencari solusi lain yang dalam tanda kutip lebih baik seperti melamar pekerjaan dibeberapa kantor swasta hingga memasukkan lamaran kerja sebagai honorer dibeberapa instansi pemerintah. Namun usahanya gagal. Janji para petinggi daerah dan reword atas perjuangan putera daerah dibidang olahraga seakan hanya isapan jempol belaka demi menyenangkan hati para atlet yang tengah berjuang.

Memang nasib yang dialami Herson tidak seberuntung rekannya yang juga atlet sepaktakraw. Adalah Ardiyanto Usman, rekannya saat membela tim sepaktakraw Gorontalo diajang Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 yang beruntung mendapatkan bonus rumah dari Walikota Gorontalo yang juga mantan Ketua KONI Provinsi Gorontalo saat itu. Tapi atlet yang akrab disapa rekan-rekannya dengan nama Neku itu ternyata tidak ingin pasrah dan berhenti berusaha demi karirnya sebagai atlet maupun ayah dari kedua anaknya. Bahkan pria yang memperistri Susanti Mangopa tersebut ternyata tidak ingin gagal dalam prestasi akademik. Dan tahun ini rencananya ia akan mengakhiri study sarjana strata satunya (S1).

Ia juga merasa sangat sedih saat ditanya soal tanggapannya soal penghargaan yang diterima Zohri, atlet atletik yang dihujani bonus sedemikian banyak hanya dalam sekali meraih prestasi. “Kalau dibandingkan dengan Zohri, jelas saya iri lah,” ujarnya singkat. Iapun berharap setelah apa yang ia raih nanti di AG tahun ini dapat merubah nasibnya, sehingga tidak lagi menjadi driver bentor. “Setelah ini saya akan fokus persiapan wisuda, dan Insya Allah semoga bisa mendapat pekerjaan yang layak sehingga jika pensiun sebagai atlet dapat menafkahi keluarga saya dengan baik,” harap Herson.(*)

(Visited 7 times, 1 visits today)

Komentar