Jayusdi : Atlet  IESPA Tak Pernah Ditelantarkan

×

Jayusdi : Atlet  IESPA Tak Pernah Ditelantarkan

Sebarkan artikel ini
Ketua IESPA, Jayusdi Rivai saat melepas kontingen bertolak mengikuti Fornas. (Foto: Istimewa)

Hargo.co.id, GORONTALO – Sejumlah kritikan yang  dialamatkan ke Indonesia Esports Association (IESPA) dibantah oleh Jayusdi Rivai, bahkan aleg komisi l ini mengatakan, informasi yang sengaja dihembuskan tak ada satupun yang benar. 

Jayusdi yang juga ketua IESPA Provinsi Gorontalo mengatakan, selama ini pemberitaan yang ada sepihak dan bersifat menyudutkan seolah-olah menelantarkan atlet dengan narasumber yang jelas. Menurut Jayusdi, untuk pembiayaan sangat terbatas dan mohon ini yang digaris bawahi terlebih dahulu. 

“Sehingga soal persoalan seleksi, kami mendapat arahan dari pimpinan pusat dapat melakukan penunjukan langsung ataupun seleksi provinsi semua tergantung kemampuan keuangan masing-masing provinsi  Provinsi,” ungkap Jayusdi. 

Lanjut dikatakan Jayusdi, diantara semua pengurus kabupaten/kota, yang siap untuk memfasilitasi pelaksanaan adalah IESPA Boalemo. Sehingga kita tetapkan pelaksanaan di Boalemo dan Boalemo itu masih di daerah Provinsi Gorontalo bukan di luar daerah. 

“Jika ada pengeluhan jarak, maka Boalemo atau Pohuwato juga bisa mengeluh jarak mereka ke tempat lain. Jika kita melaksanakan di tempat lain, sama seperti FORNAS dilaksanakan di Palembang, karena masih di Indonesia meskipun jauh dari daerah-daerah lain tapi tidak ada daerah-daerah yang mengeluhkan,” tegas Jayusdi. 

Ia juga mengatakan, meskipun pelaksanaan seleksi dilakukan Boalemo tetapi faktanya yang lolos seleksi Provinsi dari 2 Divisi yakni PUBGM dan PES adalah Player dari Kota Gorontalo. 

“Artinya meskipun jauh tetap ada yg ikut dan lolos. Sehingganya jika memang berkeinginan untuk membela gorontalo tentunya tidak pilih-pilih dan tolong janganlah membedakan kabupaten/kota di dalam provinsi Gorontalo, hal ini bisa memecah belah antara daerah, semua daerah yang ada di provinsi gorontalo memiliki hak yang sama untuk pelaksanaan kegiatan tingkat provinsi,” tegasnya. 

Ia juga mengatakan, Soal ada biaya pendaftaran bisa dilihat di pamflet biaya itu hanya PUBGm dan PES, sementara MLBB tidak dipungut biaya. Toh itu pun di provinsi lain juga ada yg mengadakan dan tidak karena tadi tergantung kemampuan keuangan masing-masing  provinsi. 

Sementara soal keberangkatan yang masih menginap di Jakarta, kemudian naik Bis ke Palembang. Bisa di Cek INORGA lain di bawah KORMI yang berangkat ke Palembang 90 persen menggunakan metode sama. 

“Dan perlu saya tambahkan sebelum berangkat, kami mengirimkan surat persetujuan kepada orang tua atlit dan atlit itu sendiri dengan melampirkan rute perjalanan, termasuk menginap 1 malam di Jakarta, kemudian dilanjutkan dengan bis, bukan hanya keputusan kami sendiri tapi juga kami sampaikan kepada masing-masing orang tua atlet, suratnya ada di kami,” tegasnya. 

Ia juga menambahkan, hotel dituduh hanya hotel esek-esek, bahkan nama penginapan pun namanya Syariah, gimana disebut tempat esek-esek. Itu dipesan online mana yang namanya Syariah itu dipikir steril. Begitu pula soal bis, itu dipesan di terminal sama dengan teman INORGA lain yang sudah terlebih dahulu berangkat. Bukan kesengajaan mobil mogok kehabisan solar dan sebagainya.

“Bahkan kami pun sudah mengajukan komplain ke PO yang kami belikan tiket atas kejadian ini. Intinya silahkan siapa saja bisa mengecek biaya perjalanan ke Palembang dan memperhitungkan biaya yang akan digunakan selama di perjalan dan kegiatan. Kami memberangkatkan 10 atlet dan 3 official, harusnya 5 karena keterbatasan yang 2 kami batalkan official. Sehingga kami meskipun dengan keterbatasan biaya, tapi untuk membawa dan menunjukkan potensi Gorontalo dan menunjukkan Esport Gorontalo hadir dan bisa ikut di tingkat nasional maka dengan segenap hati kami kamu berupaya semaksimal mungkin untuk memberangkatkan perwakilan gorontalo,” jelasnya. 

Ia juga menambahkan, FORNAS itu Festival Olahraga Rekreasi Masyarakat Nasional. Yang lebih diutamakan adalah pertunjukan dan rekreasi masyarakatnya. Meskipun demikian kami berusaha melakukan yang terbaik. 

“Tetapi jika ada yang masih kurang tentu itu adalah keterbatasan kami sehingganya kami mohon dimaklumi,” tandasnya. (***)

 

Penulis: Deice Pomalingo