Saturday, 18 September 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Jika Pemerintah Tak Segera Ubah Pedum, Petani Jagung Gorontalo Terancam Rugi Rp 3,6 Triliun

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo Headline , pada Friday, 31 March 2017 | 11:55 AM Tags: , , , , ,
  

GORONTALO Hargo.co.id – Kebijakan baru Kementerian Pertanian RI (Kementan) dalam penyaluran benih jagung, tidak saja mengancam produksi jagung di Gorontalo tahun ini. Namun, berdampak kerugian yang sangat besar bagi petani jagung di Gorontalo. Jika dihitung, angka kerugian yang bakal dialami petani bisa mencapai Rp 3,6 Triliun atau sekira tiga tahun APBD Provinsi Gorontalo.

Kerugian ini bisa saja terjadi karena lahan pertanian jagung seluas 148 ribu hektar yang selama ini ditanami jagung oleh petani akan nganggur. Seperti diketahui rata-rata produksi jagung di Gorontalo setiap hektar mampu menghasilkan 8 ton jagung. Saat ini pemerintah telah menetapkan minimal harga jagung Rp 3.100 per kg dengan kadar air 17 persen.

Artinya dengan harga jagung seperti itu, setiap hektare petani mampu berpenghasilan Rp 24,8 juta. Nah, jika lahan seluas 148 ribu hektar tidak ditanami jagung, sudah pasti petani di Gorontalo akan mengalami kerugian sebesar Rp 3,6 triliun. Ancaman bagi petani tidak melakukan penanaman jagung muncul gara-gara kebijakan baru Kementan RI tentang mekanisme penyaluran behih.

Dimana, lahan yang menerima bantuan benih hanyalah lahan pertanian jagung yang baru dibuka atau baru kali pertama ditanami jagung. Sementara 148 ribu hektar lahan jagung yang ada saat ini merupakan lahan lama.

Kepala Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo Dr.Mulyadi Mario baru-baru ini membenarkan adanya perubahan pedoman umum (Pedum) penyaluran benih jagung itu. Pihaknya juga menyesalkan kebijakan Kementan tersebut. Sebab ratusan ribu hektar lahan yang diusulkan ke Kementan untuk mendapatkan bantuan penih jagung dan pupuk, merupakan lahan usulan dari desa dan terdata sebagai calon petani calon lahan (CPCL).

(Visited 2 times, 1 visits today)

Pages: 1 2


Komentar