“Kalau mau mengubah (kebijakan) jangan ditengah jalan seperti ini. Setelah ada pergantian Dirjen Tanaman Pangan, kebijakanya juga berubah. Padahal lalu tidak sepertni ini, bantuan sesuai dengan CPCL,”terang Mulyadi. Menurutnya, jagung yang merukan komoditi unggalan Provinsi Gorontalo harus terus berproduksi dan petani yang menerima manfaatnya.
Dalam beberapa tahun terakhir kata Mulyadi, produksi jagung di Gorontalo meningkat drastis, bahkan mencapai 1 juta ton. Hal itu lanjut Mulyadi, tak lepas dari perhatian Gubernur Gorontalo saat itu Rusli Habibie yang mampu memperjuangkan tambahan benih jagung ke Gorontalo. “Dan ini menjadi program utama, beliau (Rusli Habibie,red) bahkan berkomitmen untuk terus memacu produksi.
Jagung Gorontalo adalah jagung asli penduduk Gorontalo,”tandasnya. Terpisah, mantan Gubernur Gorontalo yang kini sebagai Gubernur terpilih, Rusli Habibie menanggapi serius kendala yang dihadapi petani jagung saat ini. Ia bahkan bertemu langsung dengan Menteri Pertanian RI Andi Amran Sualiman di Jakarta, Kamis (30/1) hanya agar Kementerian Pertanian mengubah Pedum penyaluran bantuan benih. “Saya yang hubungi pak Menteri, minta izin untuk ketemu. Dan Alhamdulillah tadi (kemarin,red) ketamu di Jakarta,”ujarnya.
Menurut Rusli Habibie ia meminta agar Menteri Pertanian mengubah kebijakan tersebut, sehingga petani Gorontalo tetap akan kebagian benih dan pupuk gratis. “Saya minta agar Gorontalo tetap berlakukan seperti semula. Sehingga akan dapat benih jagung,”ujarnya. Ia mengatkan, jika ini tidak segera diantisipasi, maka kerugian besar akan dialami petani jagung Gorontalo. “Karena para pengumpul jagung di Surabaya maupun daerah lain, itu datang ke Gorontalo bawa uang untuk beli jagung,”tandasnya. (tro/hargo)
