Hargo.co.id GORONTALO – Cuaca Gorontalo akhir akhir ini dinilai kurang bersahabat oleh para petani.
Pasalnya, terik matahari yang kurang panas dan hujan yang sering melanda wilayah Gorontalo dalam beberapa pekan terakhir membuat jagung hasil panen petani sulit untuk dikeringkan.
Padahal, mereka menargetkan kadar air jagung hasil panen kali ini bisa mencapai 17 persen. Sehingga harga jual jagung lebih tinggi.
Saat ini, kadar air jagung milik petani ada yang masih dikisaran 25 persen. Tingginya tingkat kadar air jagung ini membuat para pengumpul berpikir untuk membayar dengan harga mahal.
Mereka pun menghargai jagung dengan kadar air 25 persen sebesar Rp 2.500-2.600 per kg. Sementara jika kadar air 17 persen akan dihargai Rp 3.150 per kg.
“Kalau kadar air tinggi, kami akan rugi jika membayar mahal, karena harga pengambilan pengumpul besar ataupun pabrik juga rendah,” kata Anis, pengumpul jagung.
Royis salah seorang petani di Wonosari juga mengungkapkan, curah hujan akhir – akhir ini mengakibatkan jagung hasil panen masyarakat sulit dikeringkan, bahkan sebagian jagung masyarakat mulai rusak akibat cuaca.
“Kalau jagung sulit dikeringkan, maka kadar air juga pasti tinggi. Biasanya kadar air sekitar 20 persen, kini kadar airnya mencapai 25 persen,
sementara pengambilan ditingkatan pengumpul harus memenuhi standar minimal kadar airnya 17 persen,
target tersebut tidak dapat terpenuhi sehingga harga jagung relatif rendah ditingkatan petani dengan harga Rp. 2.600 per kg,” ungkapnya, baru baru ini.
Hal senada disampaikan Mahyudin, petani di Kecamatan Dulupi, bahwa petani sulit memenuhi kadar air 17 persen.
“Cuaca tidak menentu, kalau pun tidak hujan, matahari tidak begitu panas, jadi jagung lama keringnya,” tuturnya.(dan/hargo)
