Hargo.co.id, GORONTALO – Hadirnya nasi jaha (lemang) dan dodol pada Lebaran Ketupat menjadi daya tarik bagi warga yang berkunjung di kawasan Kampung Jawa, Kabupaten Gorontalo. Setiap orang pasti menanyakan dua makanan ini guna dikonsumsi atau dijadikan oleh-oleh untuk keluarga di rumah.
Namun, ada yang menarik terkait dengan bahan-bahan yang digunakan untuk membuat nasi jaha dan dodol. Yakni bambu untuk mengemas nasi jaha sebelum dibakar dan daun woka mengemas dodol setelah sebelum disajikan.
Kali ini, Hargo.co.id akan membicarakan dua bahan baku tersebut. Jelang Lebaran Ketupat, para penjual bambu dan daun woka ini, marak terlihat di beberapa titik pada dua desa yakni Desa Huidi dan Desa Ombulo, Kecamatan Limboto Barat.
Risman Mohamad warga Desa Tiluhua, Kecamatan Limboto saat ditemui awak media menjelaskan, sejak dua hari kemarin dirinya sudah menghabiskan 200 batang bambu yang dijual dengan harga Rp 7 ribu per batang. Biasanya, dikatakan oleh Risman, pada H-2 lebaran ketupat penjualan bambu muda ini meningkat 3 hingga 4 x lipat.
“Kalau tinggal 2 hari, penjualan bambu ini bisa sampai 400 batang bahkan lebih,” ungkapnya.
Ditanyakan asal dari bambu, Risman menjelaskan bersama dengan dua rekannya dirinya mengambil bambu di Desa Daenaa, kemudian diangkut pakai mobil dengan biaya Rp 2 ribu per batang. Jadi menurutnya keuntungan bersih setiap satu ujung Rp 4.000 per batang.
“Jadi dari penjualan Rp 7 ribu, dipotong biaya transportasi dan biaya lain-lain bersihnya Rp 4 ribu. Kemudian keuntungan itu kita bagi tiga,” tambahnya.
Sementara itu Wani Antululi Warga Desa Bumela, Kecamatan Bilato penjual daun woka mengatakan, untuk daun woka yang dijual bisa laris satu ikat dalam sehari, dengan harga Rp 150 ribu per ikat. Untuk satu ikat dijelaskan oleh Wani jumlahnya ada 100 helai.
“Persediaan dalam sehari ada dua ikat. Jadi daun ini kita jual secara eceran dengan harga 5 helai,” urainya.
Lebih lanjut dikatakan oleh Wani, daun woka ini dibawa dari kampungnya untuk dijual khusus di Kampung Jawa sebagai pusat pelaksanaan lebaran ketupat.
“Memang sudah menjadi kebiasaan setiap tahunnya, saya menjadi penjual daun woka di tempat ini. Jadi selain sudah mempunyai pelanggan tetap, banyak juga warga yang mencari penjualan daun woka. Dan ini biasanya dua hari menjelang hari raya ketupat, semakin ramai warga yang membutuhkan daun woka ini untuk membungkus dodol,” tutupnya. (ded/hg)
