Itu poin pertama, agenda meeting yang diminta Rifai Talib kepada Menpar Arief, dan langsung disetujui. “Oke, saya setuju, saya akan datang, dan saya akan share banyak hal baru di pariwisata.
Kebetulan, Menpar juga punya agenda untuk bekerjasama dengan expertis heritage Spanyol, Paradores yang sudah jatuh bangun sejak 1928 menangani jaringan 94 hotel terbaik yang menggunakan konsep restorasi heritage,†jawab Arief Yahya.
Poin kedua, Rifai Talib juga meminta Menpar Arief Yahya hadir di China, 19-21 Mei 2016, UN-WTO bersama Pemerintah Tiongkok sedang membicarakan sustainable tourism, maritime tourism dan melihat impact pembangunan pariwisata terhadap devisa yang diterima negara.
Dia ingin melibatkan para menteri dari 5 negara Asia yang masuk G-20, yakni China, India, Jepang, Korea Selatan dan Indonesia. “Saya setuju, saya akan datang, dan saya usulkan khusus ada tema pembahasan Jalur Admiral Cheng Ho yang ujungnya sampai ke Indonesia,†pinta Arief, yang akan didiskusika bentuknya ke The China National Tourism Administration (CNTA) Mr. Li Jinzao.
Jika jalur darat China itu dikemas dengan Silk Road –one belt, one road—melalui China daratan ke arah Eropa dan Selatan, maka Jalur Cheng Ho ini bisa dibuat jalur perdagangan baru melalui laut.
