Arief pun menambahkan, setiap negara tetangga –tanpa menyebut nama negara—terjadi peristiwa yang luar biasa, Indonesia tidak terburu-buru mengeluarkan travel advise dan travel warning.
Karena belum tentu peristiwanya sedahsyat yang dilihat, dibaca, dan dibayangkan melalui medsos maupun reportase media mainstream. “Tetapi kenapa ya, tetangga kami membalas sebaliknya?†tanya Arief Yahya. Talib pun menjawab spontan: “Itulah dunia..!â€
Arief Yahya juga minta maaf ke UN-WTO, karena batal menjadi nara sumber dalam sesi seminar di ITB Berlin, 9 Maret 2016. Maklum, Kemenpar masih punya gawe besar, sebagai tuan rumah Gerhana Matahari Total (GMT) di 12 provinsi di tanah air dengan 100 event di seluruh Indonesia.
Jelas, kegiatan kepariwisataan yang tidak mungkin dia tinggalkan. “Karena itu, kami mohon maaf. Dua kali membatalkan acara dengan UN-WTO,†aku Arief.
Rifai Taleb berkata jujur, presentasi Menpar Arief Yahya sangat ditunggu-tunggu, terhadap banyak hal. Implementasi dari portopolio bisnis, ke dalam level functional strategy, menggabungkan antara teori dan praktik, di sector pariwisata.
Banyak ilmu baru yang bisa di-share ke dunia internasional, sebagai referensi dunia akan cetusan-cetusan baru experiences Kemenpar RI. “Karena itu, kami mengundang Pak Menpar Arief Yahya ke Barcelona, untuk berbicara dengan pelaku bisnis dan industry pariwisata di Spanyol,†pinta Sekjen Rifai Taleb untuk kali ketiga, dan wanti-wanti untuk hadir.
