“Beginilah kita setiap malam. Kita sadar sebagai angkatan muda penerus tradisi pemikiran Ahlusunnah waljamaah mengisi bulan Ramadan dengan berbagai kegiatan fositif,” kata Sekretaris Lakpesdam, Rahmad Samadi saat ditemui Gorontalo Post, akhir pekan kemarin.
Setiap malam, setelah berjamaah Salat Taraweh, para pemuda ini melantai bersama mendiskusikan tafsir Quran dan Hadits, bertadabbur, serta melakukan penguatan-penguatan kreatifitas agar bisa berdikari. Lampu botol elektrik yang ada di tempat itu merupakan salah satu hasil karya mereka.
Lampu tersebut dikhususkan untuk Lampu Tumbilotohe. Karena para pemuda ini menganggap ditengah krisis minyak tanah, konsep tersebut lebih tepat. Mengguanakan listrik, tapi modelnya persis sama. Tahun kemarin, produksi lampu botol ini sempat menggema di pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara dan Kabupaten Pohuwato.
Sayang, untuk tahun ini tak ada pemerintah yang meliriknya. “Khusus untuk karya ini, kita kesulitan untuk pemasarannya. Tapi kita tetap berusaha untuk promosi. Mumpung kita punya waktu beberapa hari lagi sebelum malam pasang lampu,” kata Heri, koordinator produksi.
