Pondok itu mereka sebut dalam dialeg Gorontalo, Wombohe Lo Tinelo yang berarti Pondok Pencerahan. Melalui diskusi tematik, sejumlah pemuda ini memimpikan sebuah kehidupan yang ideal, masyarakat yang cerdas dengan toleransi beragama yang tinggi. Itulah yang mereka anggap sebagai salah satu impian dalam trdisi pemikiran Ahlussunah waljamaah.
Menurut Rahmad Samadi, tradisi pemikiran ini perlahan mulai tersudut. Itu karena ulah segelintir sekte yang anti toleran. Kelompok ini suka membidahkan Islam lain yang tidak sepaham dengan mereka. Bertolak belakang dengan paham itu, Aswaja justru keras mengkampanyekan paham anti toleran.
Sebaliknya, getol menumbuhkan kehidupan Islam yang syarat dengan cinta damai, tanpa mengabaikan prinsip-prinsip syar’i.
Gorontalo menurut Rahmad, menjadi salah satu target yang kini mulai di elus oleh kelompok bercorak radikal ini. Sementara generasi tua NU sudah minim kepedulian. “Itulah kenapa, kita yang muda-muda ini merasa terpanggil untuk menjaganya.
Kita memulainya dari kelompok kecil dengan harapan kelak bisa membuming. Ini juga demi kepentingan kelestarian tradisi. Sebab, corak Aswaja NU selalu berbawaan dengan tradisi,” tutur Mantan Ketua Cabang PMII Kota Gorontalo itu.
Dalam diskusi yang sering digelar setiap malam, para pemuda ini memilih pemateri internal. Meski pun begitu tak boleh di pandang remeh. Pematerinya jebolan dari Al Khaerat, bahkan ada lulusan dari Universitas Al Azhar Mesir.
