Hargo.co.id Gorontalo – Beragam aktivitas bisa dilakukan untuk memuliakan bulan Ramadan. Seperti yang dilakukan sejumlah pemuda di pondok Wombohe Lo Tinelo. Mereke mengisi malam-malam Ramadan dengan diskusi tematik. Diskusi ini mengantarkan mereka untuk bagaimana merawat Tradisi Islam di Gorontalo bisa terus bertahan ditengah kemajuan globalisasi.
Salah satu pondokan kayu di areal persawahan Jalan Dua Susun (JDS), Kelurahan Tanggikiki, Kecamatan Kota Utara, Kota Gorontalo menjadi markas berkumpulnya para pemuda ini. Tidak terlihat barang mewah dalam pondok berukuran sekira 5 x 4 meter itu.
Yang ada hanyalah, tikar gulung, papan tulis, peralatan memasak, serta puluhan set rangkaian lampu botol elektrik yang ditumpuk tak jauh dari kandang ayam yang ada di lokasi itu. Di tempat yang tersembunyi dari ingar-bingar keramaian kota ini, sejumlah pemuda tenggelam dalam diskusi.
Bahasannya cukup menarik. Kedigdayaan Islam dan tradisinya di tengah dua kutup lebaral dan radikal yang secara perlahan mulai menggempur Gorontalo yang dikenal sebagai Negeri Serambi Madinah, negeri yang damai dan sejahtera.
Para pemuda ini tergabung dalam Lembaga Kajian Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam), Gusdurian, dan Jaringan Ekonomi NU dan GP Ansor. Empat Badan Otonom (Banom) dibawah naungan Nahdlatul Ulama (NU).
