Saat ini umumnya generasi muda menelan pil egoisme hingga menjadi mabuk massal luhurnya Islam dan indahnya adat istiadat Gorontalo sebagai identitas. Kebanyakan generasi muda hari ini apalagi menjelang Idul Fitri mungkin hanya sibuk mencari aksesoris mewah dan gaul untuk di pakai di hari raya nanti, atau sibuk menyusun berbau euforia lainnya.
Bahkan parahnya Ramadan diisi dengan nongkrong sana-sini, balapan liar, bahkan tak sedikit dicampur dengan aktivitas maksiat lainnya.
Tapi bagi para pemuda ini. Mereka lebih senang bercengkarama dengan nilai-nilai luhur tersebut. Cita-cita untuk membumikan paham Aswaja, berikut mempertahankan secara nyata negeri serambi Madinah sebagai daerah bercorak daerah adat bersendikan sarah dan sarah bersendikan kitabullah menjadi alasan mereka untuk tetap eksis.
Bagi Ramhat yang menjadi koordinator kelompok muda ini, berkumpul untuk kegiatan bermanfaat jauh lebih menyenangkan. Tak peduli diperhatikan oleh pemerintah atau tidak. Mereka jauh dari sekadar mencari simpatik.
Keberadaan mereka menjadi modal bagi Gorontalo di masa depan yang terus melestarikan kajian-kajian Islami dan adat isiadat, bersemangat untuk membangun ekonomi, serta sangat menjunjung tinggi toleransi beragama. (Andri/hargo)
