Mision Sacre vs Kuota Etis

×

Mision Sacre vs Kuota Etis

Sebarkan artikel ini
Mision Sacre
Petugas transit Bandara Soekarno-Hatta. (Foto: Istimewa)

Akibatnya suasana menjadi ruaamee bingits. Para pendekar Kungfu pikir masa lampau tak terbendung berkumpul dan mengitari kak Yoyo siang dan malam, hingga ke rumah sakit. Tiba-tiba mereka kelihatan menjadi muda kembali. Ada grup aspuri Unsrat, grup asber 1, grup asber 2, grup Bahu, grup Kleak, bahkan grup Muhamadiyah minus grup Kum-Kum. Tak terkecuali beberapa pejabat seperti Pj. Gubernur, Walikota, Sekda, Bupati, Kepala Dinas, dll.

Bukan hanya soal rindu dendam. Ada suatu yang menarik bagi saya. Ketika tiba saatnya kak Yoyo berangkat – melalui amatan semi intensif minimal pada dua grup WA – mencuatlah satu nama: “N” yang begitu luar biasa loyalitas dan dedikasi nya mendampingi, memperhatikan kak Yoyo baik saat sehat maupun saat terbaring sakit, hingga mengantarkanya sampai bandara di Jakarta.

Ternyata “N” terbilang yunior jauh yang bahkan tak pernah ketemu dengan kak Yoyo sebelumnya. Dan ternyata lagi kelibatan kekaderannya di HMI terbilang minimalis, apalagi memahami filosofi NDP. Nyaris tiada alasan nostalgia organisasi yang membuat dia terikat begitu kuat pada situasi itu. Potong cerita, setelah mencermati dan berkontemplasi seperlunya, tiba-tiba saya menjadi sadar, bahwa pada diri “N” terdapat prototipe praktika step inadequasi kognitif terkait apa yang menggelegar dalam tulisan kak Ipoel tentang mission sacre insan cita, tiga puluh enam tahun yang lalu seperti di atas.