Hargo.co.id GORONTALO – Tidak adanya ekspor jagung dari Gorontalo dalam beberapa bulan terakhir diakui Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo. Hanya saja, hal itu bukan berarti berdampak pada petani dan pruduksi jagung di Gorontalo.
Kepala Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo Mulyadi D Mario kepada Gorontalo Post (6/10) mengatakan, tidak adanya ekpor jagung karena harga jagung dalam negeri yang sangat baik saat ini. “Ngapain ekspor jika harga lokal lebih baik. Harga jagung di luar negeri hanya Rp 2000an, harga lokal di tingkat petani sampai Rp 3.800 per Kg, pilih mana ?,” kata Mulyadi.
Ia menjelaskan, tidak dilakukan ekspor justeru berdampak baik pada petani, sebab harga jual yang diperoleh petani jauh lebih baik. “Tujuan kita adalah bagaimana petani itu sejahtera, mereka menerima nilai harga jagung yang layak.
Buat apa gagah-gagahan ekspor jika hanya menyusahkan petani,”kata Mulyadi. Ia juga mengatakan, tidak adanya ekspor bukan berarti produksi jagung Gorontalo menurun. Tahun 2017 sesuai data BPS kata Mulyadi, produksinya mencapai 1,4 juta ton.
“Ada yang tanya mana ini jagung satu juta ton, bahkan disebut satu dusta ton. Itu terealisasi tahun ini, dan itu bukan kami yang bilang tapi BPS,”kata Mulyadi.
Peningkatan produksi jagung yang signifikan itu, lanjut Mulyadi, menjadikan Gorontalo sebagai daerah lumbung jagung nasional dan penopang produksi jagung tanah air. “Kita memenuhi kebutuhan jagung dalam negeri, apalagi saat ini ada program swasembada jagung,”tandasnya. Pengiriman jagung dari Gorontalo kata Mulyadi dilakukan antar pulau, seperti ke Jawa. (tro/hg)
