Hargo.co.id Gorontalo – Salah Satu kelemahan Ismail Kadir saat tampil di ajang DA3 adalah Lupa lirik. Dengan kelemahannya ini, menjadi senjata para juri menyudutkan penampilan Ismail Kadir.
Ia tak bisa mengelak karena memang benar lupa lirik. Namun dibalik semua itu Ismail mengakui, lagu yang ia bawakan kerap diubah mendadak, sehingga terjadi kesalahan saat tampil. Kandati begitu kualitas suara dan aksi panggungnya maksimal.
“Kenapa saya lupa lirik waktu nyanyi lagu judul Cinta Sabun Mandi, karena sebenarnya bukan lagu itu yang saya sudah latih. Sebelumnya bukan itu tapi sehari mau tampil lagu yang saya sudah pelajari, diubah, dan harus diganti dengan lagu Cinta Sabun Mandi, “bebernya.
Irwan Hamzah, pejabat Pemkot Gorontalo yang terus mendampingi Ismail Kadir juga mengakui adanya kejanggalan persaingan kompetisi itu. Misalnya saat mempromosikan daerah Gorontalo, malah dapat durasi sedikit.
Padahal buat yang lainnya diberikan durasi panjang dan malah terbuang percuma. “Saya saja waktu bawa penari dari Gorontalo itu cuma tampil sebentar padahal kalau yang lain diberi waktu banyak alasan selalu katanya over durasi,”ujar Irwan Hamzah.
Begitu juga saat konser Wildcard, sebelumnya diberitahukan bahwa penilaian tergantung SMS malah drastis berubah penilaian tergantung juri. Tapi kendati hanya berakhir di 8 besar, menurut Irwan itu sudah sangat membanggakan. Ia yakin Ismail dan Gorontalo akan terus berkibar di kancah musik nusantara.
Direktur Utama Gorontalo Post Mohamad Sirham yang menerima kunjungan Ismail Kadir (15/4) ikut memberi motivasi bagi Ismail. Gorontalo Post kata dia, akan mensupport putra daerah yang memiliki talenta dan berprestasi ditingkat nasional.
Ia mengatakan, sebelum Ismail Kadir, ada Bona Paputungan, dan Norman Kamaru yang sempat heboh dan dengan sendirinya mengangkat nama Gorontalo. “Ismail harus punya album juga harus promosikan potensi daerah Gorontalo, Ismail harus punya ciri khas mungkin Goyang Padeti. Kami akan terus memberikan dukungan,”ujar Mohamad Sirham. (csr/hargo)
