Gorontalo

Pakar Hukum: Tuduhan Pelanggaran Sumpah Jabatan Gubernur Gorontalo Keliru

×

Pakar Hukum: Tuduhan Pelanggaran Sumpah Jabatan Gubernur Gorontalo Keliru

Share this article
Pakar Hukum_ Tuduhan Pelanggaran Sumpah Jabatan Gubernur Gorontalo Keliru
Dosen Hukum Tata Negara, Siti Rahmawati Igirisa.

Hargo.co.id, GORONTALO – Dosen Hukum Tata Negara, Siti Rahmawati Igirisa, SH., MH., angkat bicara terkait tudingan yang menyebut Gubernur Gorontalo melanggar sumpah jabatan.

Berita Terkait:  Penjagub Ismail Safari Ramadan di Bone Bolango

Ia menilai, narasi yang berkembang di publik merupakan tafsir hukum yang keliru dan cenderung dipaksakan.

Tudingan tersebut mencuat setelah muncul anggapan bahwa pihak eksekutif mengabaikan Putusan Mahkamah Agung (MA) Nomor 328 K/Pdt/2017 terkait sengketa kepengurusan KUD Dharma Tani Marisa.

Berita Terkait:  Penjagub Rudy: Pilpres dan Pileg Harus jadi Acuan Pelaksanaan Pilkada

Rahma menjelaskan, perkara tersebut merupakan sengketa internal koperasi antara kubu Idris Kadji dan kubu Uns Mbuinga, yang sama sekali tidak melibatkan pemerintah daerah sebagai pihak berperkara.

Salah Sasaran Amar Putusan
Berita Terkait:  Gubernur Gusnar Lobi Kemenpora, Dorong Revitalisasi Sport Center Limboto untuk PENAS XVII

Dalam keterangannya, Rahma mengurai bahwa putusan kasasi MA tersebut tidak memuat kewajiban apa pun yang dibebankan kepada Gubernur Gorontalo.

“Gubernur Gorontalo bukan pihak dalam perkara tersebut. Jika membaca amar putusan MA secara cermat,

Berita Terkait:  Penyaluran BLP3G di Kota Gorontalo Sesuai Prosedur, Sagita: Penerima Berdasarkan DTKS

tidak ada satu pun poin yang memerintahkan gubernur untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu,” ujar Rahma.

Ia menegaskan, tuduhan pelanggaran sumpah jabatan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 menjadi tidak relevan jika objek putusan pengadilan tidak ditujukan kepada gubernur.

Berita Terkait:  Ekonomi Gorontalo Tetap Tumbuh 6,20 Persen di Tengah Efisiensi Anggaran

“Bagaimana mungkin disebut melanggar, jika kewajiban hukum dalam putusan itu memang tidak dialamatkan kepada gubernur?” tambahnya.

Selain itu, Rahma juga meluruskan terkait Keputusan Gubernur Nomor 351/17/IX/2015 yang mengatur pengalihan Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi dari KUD Dharma Tani kepada PT Puncak Emas Tani Sejahtera.

Berita Terkait:  Gubernur Gusnar Berduka Cita Atas Wafatnya Affan Kurniawan

Menurutnya, Putusan MA Nomor 328 K/Pdt/2017 hanya menyangkut keabsahan kepengurusan koperasi, bukan persoalan izin tambang.

“Putusan tersebut tidak membatalkan keputusan gubernur terkait pengalihan izin tambang. Secara hukum, keputusan itu tetap sah dan memiliki kekuatan hukum mengikat,” tegasnya.

Berita Terkait:  PENAS XVII Dongkrak Ekonomi Gorontalo, Transaksi UMKM Tembus Rp1,66 Miliar

Rahma pun menyayangkan berkembangnya opini yang seolah-olah menempatkan gubernur sebagai pihak yang membangkang terhadap putusan pengadilan tertinggi.

Ia menilai, terdapat kecenderungan mempolitisasi tafsir hukum untuk menyudutkan pimpinan daerah.

Berita Terkait:  Resmi Dilantik, Sila Nurainsyah Botutihe Jadi Perempuan Pertama yang Memimpin Gorontalo Utara

“Kami berharap publik mendapatkan literasi hukum yang jernih. Jangan sampai narasi yang dibangun hanya berbasis kepentingan sepihak tanpa memahami duduk perkara yang sebenarnya,” tutup Rahma.

Persoalan KUD Dharma Tani Marisa sendiri masih menjadi perhatian di Gorontalo, terutama karena berkaitan dengan sektor pertambangan yang strategis.

Berita Terkait:  Gubernur Gusnar Lakukan Kunjungan Balasan Ke Rumah Pribadi Bupati Boalemo

Pemisahan antara sengketa internal organisasi dan kewajiban administratif pemerintah dinilai penting untuk menjaga kepastian hukum di daerah.(Rls)