Sabtu, 2 Juli 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Paris Accord Isu Utama G20

Oleh Aslan , dalam Kabar Dunia , pada Sabtu, 8 Juli 2017 | 02:00 Tag: ,
  

Hargo.co.id – Konferensi G20 berlangsung mulai hari ini di Kota Hamburg, Jerman. Kemarin (6/7) Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyedot banyak perhatian saat menginjakkan kakinya di kota pelabuhan tersebut. Jika dibandingkan dengan para pemimpin dunia lainnya, taipan 71 tahun itu memang paling kontroversial.

Trump yang baru kali ini mengikuti G20 diincar banyak pemimpin negara karena Paris Accord. Beberapa waktu lalu, Trump menyatakan AS akan menarik diri dari kesepakatan tentang perubahan iklim dan cara mengatasinya tersebut. Tentu saja, langkah itu membuat negara-negara lain marah.

Perdana Menteri (PM) Inggris Theresa May berencana mengadakan pertemuan empat mata dengan Trump tentang Paris Accord. ’’PM May berpendapat bahwa komitmen untuk meminimalkan dampak perubahan iklim seperti yang tertuang dalam Paris Accord tidak bisa ditawar lagi,’’ ungkap jubir 10 Downing Street.

Kanselir Jerman Angela Merkel yang menjadi tuan rumah dalam konferensi dua hari tersebut juga sudah ancang-ancang untuk memperingatkan Trump. ’’Tidak ada yang bisa menarik diri dari Paris Accord,’’ tegasnya. Tapi, dengan atau tanpa AS, dia meyakini seluruh agenda ramah lingkungan dalam Paris Accord tetap diterapkan.

Sementara itu, Prancis segera mewujudkan ambisinya untuk menjadi negara hijau. Presiden Emmanuel Macron menargetkan 2050 sebagai tahun bebas emisi karbondioksida bagi Prancis. Demi mencapai target, Menteri Energi Nicolas Hulot menjabarkan serangkaian program ramah lingkungan dalam jumpa pers di Kota Paris kemarin (6/7).

’’Target yang berat. Tapi, Prancis ingin menjadi yang pertama mewujudkan ekonomi hijau,’’ kata pria 62 tahun yang lama dikenal sebagai aktivis lingkungan hidup tersebut.

Hulot menyebut rencana jangka panjang yang bakal dilaksanakan bertahap melalui program lima tahunan itu sebagai Climate Plan. Tahap pertama Climate Plan mulai berlaku tahun ini sampai 2022.

Dalam program lima tahun pertamanya menuju Prancis bebas emisi karbondioksida tersebut, Hulot mencanangkan dua agenda utama. Yakni, menghentikan eksplorasi minyak dan gas bumi di seluruh wilayah Prancis dan mengganti bahan bakar pembangkit listrik dengan sumber selain batu bara. ’’Setiap penduduk yang punya rumah kami harapkan bisa menciptakan energi ramah lingkungan sendiri,’’ ujarnya. (AFP/BBC/CNN/thenewyorktimes/theindependent/hep/c22/any/hg)

(Visited 1 times, 1 visits today)

Komentar