Hargo.co.id, BOLMONG – Peristiwa longsornya area tambang liar di Lokasi Busa, Desa Bakan, Bolaang Mongondow (Bolmong), menjadi sorotan nasional. Bagaimana tidak, hingga kemarin diketahui masih ada puluhan penambang yang masih terkubur hidup-hidup dan masih dilakukan evakuasi. Sore hingga malam kemarin, wartawan Harian Bolmong Raya (Grup Harian Gorontalo Post) secara ekslusif memasuki lokasi longsor.
Sekira Pukul 15.15 Wita, wartawan menyusuri lokasi kejadian. Butuh stamina ekstra untuk mencapai lokasi longsor. Sebab, perjalanan yang dimulai lewat jalan PPK Desa Bakan, memiliki jalur ekstrem. Selain sebagai jalur utama penambang, juga dipakai warga setempat untuk menuju perkebunan.
Ada beberapa anak sungai yang harus dilewati. Jarak tempuh ke lokasi tambang dari Desa Bakan ditempuh selama 1 jam berjalan kaki. Sebelum sampai di lokasi, penambang harus melewati beberapa jalan memanjat dengan kemiringan 45 derajat.
Pun ada beberapa lokasi yang harus dilewati secara ekstrem dan dinding batu jadi pegangan tangan untuk melintas. Tiba di lokasi, sekira 10 meter, tampak beberapa pohon tumbang. Di tempat itu, ketika wartawan harian ini tiba, ada sekira 20-an orang berada di bibir lubang.
Diketahui, mereka merupakan keluarga korban yang masih terjebak di dalam longsoran. Untuk masuk ke bibir lubang, harus dibantu menggunakan papan kecil karena dari permukaan tanah hampir berjarak 2 meter untuk masuk. Tiba di depan lubang, wartawan harus merangkak serta menempel ke dinding batu.
Masuk di dalam goa, lokasi busa terlihat seperti tambang batu batu. Lobang goa berdiameter 1,5 meter dan didalamnya lebar seperti di dalam rumah. Namun karena hanya untuk penambang kalikit, maka keamanan di dalam goa tak diperhatikan.
Hanya sedikit kayu penyangga di dalam goa tersebut.
Tiba di dalam lubang yang menjadi lokasi inti longsoran, wartawan HBMR (Harian Bolmong Raya) melihat ada satu jenazah yang terjepit dan hanya terlihat hingga batas pinggang dan telah ditutupi karung.
Di dalam goa tersebut suasana mencekam, karena masih terdengar suara batu berjatuhan diselingi suara debu yang jatuh lewat sela-sela batu. Pun, di dalam kondisi sangat gelap dan membutuhkan cahaya dari luar dan juga bisa menggunakan senter. Suhu udara hampir mencapai 32 derajat celcius, gerah.
