Kamis, 27 Januari 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Satu Kursi

Oleh Tirta Gufrianto , dalam DI'SWAY , pada Kamis, 23 Desember 2021 | 10:05 AM Tag: , , ,
  Satu Kursi - DI'SWay

Oleh : Dahlan Iskan

LIBURAN Natal ini pun menjadi sangat kelabu bagi Presiden Joe Biden. Ambisinya untuk bikin lompatan besar pembangunan Amerika masih terganjal.

Itu mirip yang dialami Presiden Donald Trump. Juga yang dihadapi Presiden Barack Obama.

Lebih tragis.

Yang mengganjal Biden itu justru anggota kongres dari partainya sendiri: Demokrat.

Padahal, untuk bisa bikin lompatan besar itu, Biden tinggal perlu satu suara saja. Satu. Hanya perlu satu kursi lagi. Dan itu ada. Dari partainya sendiri.

Tapi, pemilik kursi itu, Joe Manchin, 74 tahun, kian tegas sikapnya: no!

Seorang penulis terkemuka Inggris, Tom Fowdy, sampai membuat kesimpulan begini: ”Terjawablah sudah mengapa Amerika tidak bisa bersaing dengan Tiongkok.”

Ada juga yang menulis: masa depan jutaan rakyat Amerika Serikat (AS) diganjal satu orang.

Jawaban ”no” dari Joe Manchin itu disampaikan kemarin dulu. Dalam lobi terakhir sebelum reses liburan Natal dan tahun baru. Padahal, begitu liburan selesai, 3 Januari depan, Senat AS sudah harus bersidang untuk memutuskan: program Biden itu diterima atau ditolak.

Komposisi anggota senat saat ini seimbang: Republik 50 kursi, Demokrat 50 kursi.

Semua anggota senat dari Republik sudah bulat: menolak.

Semua anggota senat dari Demokrat sudah bulat: menerima –kecuali yang satu itu.

Kalau saja Joe Manchin ”yes”, hasil pemungutan suara imbang: 50-50. Dalam hal terjadi seperti ini, penentunya adalah satu suara dari wakil presiden AS. Anda pun sudah benar-benar tahu: Wapres yang sekarang adalah Kamala Harris dari Demokrat.

Yang dimintakan persetujuan itu adalah: APBN AS yang terbesar dalam sejarah negara tersebut. Untuk bisa membangun IT, energi baru, jalan, jembatan, dan infrastruktur lainnya secara besar-besaran. Juga, agar bisa memberikan bansos untuk orang miskin dan anak-anak mereka.

Total APBN yang dirancang Biden itu 3,5 triliun dolar AS. Saya tidak anggup mencari nol sebanyak itu kalau harus dirupiahkan.

Itulah bendera utama yang akan dikibarkan Biden: menjadi Presiden Pembangun Kembali Infrastruktur AS. Keunggulan Biden yang dikenal sebagai jago lobi di kongres membuat Demokrat optimistis program itu bisa gol di parlemen.

Sulit.

Republik tidak pernah memberikan sinyal oke. Sebagian anggota Demokrat sendiri menentang. Anggaran tersebut dinilai terlalu besar. Banyak yang dianggap tidak perlu. Rakyat merasa terbebani terlalu berat –lewat pungutan pajak.

Biden memang akan menaikkan pajak. Secara drastis. Dari 21 persen ke 28 persen. Dulu Trump-lah yang menurunkan pajak itu. Secara drastis.

Dalam lobi-lobi selama ini, Biden sudah mengalah. Angka 3,5 triliun itu sudah diturunkan: menjadi 2,2 triliun.

Maka, sebulan lalu, DPR AS –yang dikuasai Demokrat– menyetujui APBN itu: 220 lawan 213.

Tinggal minta persetujuan senat 3 Januari nanti.

Sejak awal ”yang satu orang itu” sudah memberikan isyarat menolak. Sempat pula sedikit melunak: setuju pajak dinaikkan, tapi maksimal menjadi 26 persen. Jangan 28 persen.

Kian mendekati batas waktu, Joe Manchin belum juga yes. Puncaknya dua hari lalu. Hanya 20 menit sebelum pembicaraan harus berakhir untuk libur. Joe Manchin memberikan kata akhir: no.

Kubu Demokrat lemes di akhir batas waktu itu.

Di AS tidak ada pedagang tempe. Omongan ”pagi tempe sore kedalai” jarang terjadi di sana. Maka, meski masih ada waktu hampir dua minggu sebelum pemungutan suara, tempe itu tidak akan bisa jadi kedelai. Anda pernah tahu: hanya kedelai yang bisa jadi tempe.

Joe Manchin pun segera merayakan Natal di kampungnya, West Virginia. Itulah negara bagian yang paling konservatif di luar pendukung konfederasi. Sampai pun sudah menjadi tokoh Demokrat, Joe Manchin masih konservatif.

Negara bagian tersebut hanya punya dua kursi senat. Masih beruntung Demokrat bisa mendapat satu kursi di situ –meski sikapnya ternyata masih seperti Republikan juga. Soal batu bara, misalnya, ia pro penggunaan batu bara. Ia memang salah seorang pengusaha terkait batu bara. Dana politiknya pun terbanyak dari sektor itu.

West Virginia dapat jatah tiga kursi DPR. Disapu bersih oleh Republik.

Trump sering sengit mengecam anggota kongres dari Republik yang tidak membela dirinya. Trump punya panggilan khusus untuk mereka: Si RINO –Republican In Name Only.

Biden lebih sabar menghadapi orang seperti Manchin. Tidak sampai ada omongan –misalnya– Joe Manchin itu Celeng Dhegleng.

Tapi, Biden akan kehilangan moto utamanya: BBB –Build Back Better. Itulah program yang sudah melekat erat di dirinya –lewat rencana APBN gajah bengkaknya.

Bulan depan sudah satu tahun Biden menjadi presiden. Baru 1,2 T anggaran yang sudah disetujui. Kelihatannya, parlemen hanya akan setuju maksimal 1,6 T.

Sebenarnya angka itu pun sudah gajah. Hanya saja belum cukup bengkak –kalau tujuannya untuk melawan Tiongkok. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Tulisan Berjudul Ikut Hong Kong

Komentator Spesialis
Hari ibu seharusnya adalah setiap hari.

ah.id hidayat
Kemarin boleh jadi merupakan hari paling sibuk Abah DI. Tulisan “Ikut Hongkong” (atau Hong Kong seperti pada isi tulisan?) adalah buktinya. Pendek dan nyaris tanpa greget. Kalimat terakhir pun tidak “nendang” meskipun di dalamnya ada kata “ditendang”. Hanya tersusun dalam empat belas paragraf 356 kata, tulisan ini lebih mirip breaking Disway untuk berita yang tidak masuk kriteria menjadi berita sela. Dalam 356 kata itu, sudah termasuk 52 kata yang merupakan kutipan langsung dari pernyataan Abraham Samad, satu-satunya narasumber yang dimuat pendapatnya, meskipun Abah DI menghubungi narasumber lain. Untunglah, sebelum membaca “Ikut Hongkong”, saya dahulukan membaca “Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Tulisan Berjudul Pesanggrahan Djoyoadhiningrat” yang berisi 15 komentar dari 14 komentator terpilih. Dua komentar Mirza Mirwan, jika digabung, hampir sama panjangnya dengan tulisan Abah pagi ini minus kutipan dari Abraham Samad: 303 kata.

Jo Neka
Sejak pertama kali KPK di bentuk saya rakyat biasa yang pesimis akan keberhasilanya sebab sudah biasa di negara ini sebuah lembaga pengawas di bentuk dan lama kelamaan menyimpang jauh dari tujuan suci pembentukanya dengan intrik kepentingan.Yang kedua sebuah lembaga pengawas yg personilnya di ambil dr lembaga yg akan di awasi akan sulit berhasil..

Iqbal Safirul Barqi
Ide bagus. Tapi pelaksanaannya tidak selalu mulus. Jika KPK mengawasi penegak hukum, lantas siapa yang akan mengawasi KPK? Apakah KPK bakal menjadi maha kuasa? Bagaimana jadinya jika KPK disusupi atau bahkan dipimpin oleh oknum penegak hukum yang korup? Saya rasa kecurigaan seperti ini sudah lama adanya. Logikanya, jika saya koruptor kelas tinggi, maka jalan paling aman bagi saya ya jadi pimpinan KPK, mengawasi tapi tidak diawasi. Maha kuasa. Semoga Allah senantiasa melimdungi Indonesia kita.

Pryadi Satriana
“… saya berpikir keras” tapi hasilnya CUMA MENULIS ULANG IDE PARA KOMENTATOR! Wis gak iso mikir, Bah? Gpp wis, sing penting sehat… Salam.

Mbah Mars
PERAMPOK VS PERAMPOK Perampok: “Pilih nyawa atau harta ?”, sambil menodongkan pistol. Pejabat:”Kamu tidak kenal aku ?” Perampok:”Emangnya kamu siapa ?” Pejabat:”Aku ini pejabat tinggi di negeri ini” Perampok:”Kalau begitu, kalimatku di atas aku ralat” Pejabat:”Maksudmu ?” Perampok:”Kembalikan hak-hakku yg telah kau rampok”

Disway 051076
kasihan pulau bali, capek2 bantu negara tarik devisa dolar masuk….eh, sama si slompreett disedot keluar,masuk kotak hitam batu meteor negeri orang lain . milyaran dolar rutin tiap tahun…duuuuh

Hariyanto
Diperlukan sapu bersih untuk membersihkan lantai yang kotor. Pertanyaannya bagaimana kalau sapu itu perlahan tapi pasti sudah menjadi kotor juga, seperti yang dipertontonkan dalam sidang wakil ketua DPR itu, sudah mulai ada sapu yang kotor. Lantas kalau KPK diminta fokus mengawasi para penegak hukum, terus yang mengawasi KPK siapa ? Bukankah KPK juga penegak hukum, yang bisa juga menjadi sapu kotor, siapa yang bisa menjamin tidak ada lagi sapu kotor di KPK, jangan jangan masih ada, masih banyak, dan masih beroperasi dengan nyaman. Ini hanya jangan jangan lho ya. Bisa benar, bisa juga tidak salah. Hehehe…

Bapaknya Kembar
Susah dilihat karena meskipun nyolong tikus jenis ini ga kelihatan karena menyamar pake kostum kucing

Muliyanto
Pas bukak kok yo pas 210,ya presneleng ON kopling diinjak, tinggal wuzzzzzz……

Soponyono
Saya yakin, tidak ada ASN/Pejabat Negara yg lapor LHKPN tujuannya utk “pamer”. Lha wong kalo boleh, mereka pasti tidak mau utk lapor. Apa enaknya coba, harta kita (antara lain saldo kas dan setara kas kita) diumbar ke publik? Terus kalau misal ada tetangga yg mau pinjem duit, kan repot mau bilang kalo gak punya duit. Cuma, bagaimana utk bisa meyakinkan publik, dr LHKPN yg diumumkan itu, nilainya sdh benar? Atau jika ada yg nilainya fantastis, tdk sesuai dengan profil jabatannya, siapa yg bisa menjelaskan ke-kepo-an publik?

Sin
nomor cantik disway : 1 = pertamax 4 = nunggu pengesahan otole 25 = dagangan om leong..wkwk 69 = yin yang..wolak walik 212 = reunian sableng 234 = fatsal 5..pecinta tembakau madura..

Sea Lead
Unilever pd thn 1922 didirikan oleh Lever Brothers, baru pd tahun 1929 melakukan merger dgn Margarine Unie punya Londo, dan itu perushaan swasta,, beda cerita dgn KAI, PTPN dll,, yg saham mayoritas dimiliki Pemerintah Hindia Belanda,,

tjhin yen tjen
Abah Disway.. apakah bisa diliput berita Unilever HuT ke 88 di Indonesia… pertanyaan… kenapa unilever perusahaan belanda tidak masuk BUMN (nasionalisasi), sedangkan yang lain masuk BUMN, seperti PELNI, KAI, Perkebunan Nusantara PTPN, Bank Indonesia… Salam.. trmks

Burger and Fries
Sebaiknya KPK dikhususkan untuk memberantas korupsi di 3 Institusi yaitu Kepolisian, Kejaksaan dan BPK. . Karena meskipun korupsinya terang benderang tapi auditnya keliru disebut pemborosan / kelebihan bayar, apakah bisa ditangkap ?

Kalils Kalists
Khusus untuk mengawasi para penegak hukum yg semuanya dibawah presiden ,, ya sama saja bohong ,, hukum balas budi dan saling tergantung ,, itulah yg terjadi ,,

Pedro Lincalinci
Pak Mirza, utk urusan SUAP – SOGOK – UPETI sepertinya di sini “I Can Accept Cash” malah bukan lagi sebagai plesetan, tetapi itu yg diharapkan, biar tdk ada jejak digitalnya.

Mirza Mirwan
Masih ingat kasus Cicak vs Buaya? Perseteruan KPK vs Polri th 2009 — jaman Komjen Susno Duadji jadi Kabareskrim. Secara kebetulan tahun itu ada film Hong Kong yg disutradarai Wong Jin. Judulnya kepanjangan plesetan dan ICAC yg sebenarnya “Independent Commission Against Corruption” diplesetkan menjadi “I Corrupt All Cops”. Saya sdh lupa nama tokoh² dalam film fiksi tsb. Tetapi yg digambarkan kurang lebih mewakili kejadian di tubuh ICAC dan HKBF (Kepolisian Hong Kong) yg berseteru selama Hong Kong masih dalam administrasi Britain, sejak 1974 — saat ICAC dibentuk — hingga 1997 saat Hong Kong dikembalikan kepada Tiongkok. Tetapi plesetan tentang ICAC bukan hanya seperti judul film karya Wong Jin itu. Masih ada plesetan lain, “I Can Accept Cash”. Yang lainnya lagi saya lupa. Oh, iya, ICAC itu memang lembaga Independent. Tetapi bertanggung jawab kepada Gubernur Jenderal (saat masih dalam administrasi Inggris) dan kemudian kepada Chief Executive sejak dikembalikan ke Tiongkok.

(Visited 18 times, 1 visits today)

Komentar