Kamis, 2 Februari 2023
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Seniman Gorontalo, Bali dan Belgia Pentas Tari di Atas Air Danau Limboto

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo Headline , pada Rabu, 31 Agustus 2016 | 12:51 Tag: , ,
  

Hargo.co.id GORONTALO – Air Danau Limboto mulai memantulkan cahaya jingga dari langit yang membentang luas. Udara sejuk bertiup sepoi-sepoi diiringi deretan burung yang beranjak ke peraduan. Sementara itu dari dua buah sound system terdengar alunan musik perpaduan seruling yang dikolaborasikan tabuhan rebana serta polopalo (alat musik khas Gorontalo).

Sejalan hal itu, enam perempuan yang mengenakan pakaian serba merah mulai berdiri di atas rakit bambu. Sejurus kemudian, langkah mereka diiringi gerak gemulai mengikuti alunan musik. Mereka mencoba meresapi alunan seluring dan tabuhan rebana-polopalo yang diwejawantahkan dalam bentuk gerak seni.

banner 728x485

Selang beberapa saat, tiga laki-laki telanjang dada ikut ambil bagian. Langkah mereka lebih tegap, namun tetap gemulai mengikuti alunan musik. Di tengah pagelaran itu, seorang pria berdiri dengan secarik kertas di tangan kanannya. Ia pun mulai menyampaikan sair demi sair yang tertulis dalam kertas yang dipegangnya itu.

Demikian sekelumit pentas seni yang ditampilkan para seniman di atas Danau Limboto, Selasa (30/8) sore sekitar pukul 17.00 wita. Para seniman tersebut merupakan kolaborasi seniman Gorontalo, Bali dan Belgia. Adapun pentas yang ditampilkan berupa tari kontemporer yang dikoordinir koreografi asal Bali Tebo Umbaran.

Para penari berasal dari seniman Gorontalo yang tergabung dalam Komunitas Kelapa Batu, Gorontalo Etnic Music serta Gorontalo Dance Community. Sementara yang membacakan puisi adalah Yannick S’ Jongers, seorang seniman yang berasal dari Belgia. Menariknya, penampilan tari dan puisi para seniman digelar di panggung bambu di atas danau limboto.

Panggung itu sendiri merupakan karya seniman instalasi Andi Coklat. Penampilan para seniman tersebut mengambil tema Tulu dan Taluhu (api dan air). Tema itu sendiri merupakan refleksi atas Danau Limboto. Yang mana api dan air merupakan simbol kehidupan. Demikian pula Danau Limboto yang merupakan salah satu sumber kehidupan masyarakat Gorontalo.

Terutama di wilayah pesisir Danau Limboto, baik di wilayah Kabupaten Gorontalo maupun Kota Gorontalo.

Sebagai sumber kehidupan, keberadaan Danau Limboto diharapkan bisa lestari dan berkepanjangan. Namun hal itu kontras dengan kenyataan yang ada. Realita menunjukkan Danau Limboto mengalami kerusakan cukup parah.

“Memang pentas ini sebagai bentuk kritik, karena danau yang menjadi sumber kehidupan masyarakat sekitar itu, makin kritis karena terjadi pendangkalan,” ungkap Tebo Umbaran.

Begitu pula isi pusi yang dibacakan Yannick S’Jongers dalam bahasa Inggris. Yannick ikut menyentil kondisi Danau Limboto yang dari hari ke hari kian kritis.  Di sela-sela penampilan, Yannick mengatakan, ia datang dari negaranya hanya untuk melakukan pementasan seni di Gorontalo, apalagi pementasan seni terkait lingkungan.

(Visited 9 times, 1 visits today)

Laman: 1 2


Komentar