Rabu, 20 Oktober 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Setangkai Azhar

Oleh Admin Hargo , dalam DI'SWAY , pada Kamis, 14 Oktober 2021 | 10:05 AM Tag: , , ,
  Setangkai Azhar - DI'SWay

Oleh : Dahlan Iskan

DARI pembukaannya saja saya langsung tahu: ini tulisan penyair terkemuka dari Riau, Prof Yusmar Yusuf. Yang ditulis ketika ia kehilangan sahabat baiknya: Datuk Seri Al Azhar. Perhatikanlah pembukaan tulisan Prof Yusmar ini, betapa ia merasa kehilangan:

”Bergurau dalam canda yang merisau. Ketiadaan adalah keadaan yang melingkar. Seraya menjalani ketiadaan sepanjang malam, tidur, saya bangun dengan sejumlah pesan masuk tentang ketiadaan.

Sobat saya Azhar ’terbang ke langit’ selamanya. Lalu, saya terduduk, diam dan menggenang air mata di antara dua pelupuk. Gelombang kedua, ketiadaan: saya kehabisan kata”.

Datuk Seri Al Azhar meninggal di usia 60 tahun. Selasa kemarin. Hanya beberapa hari setelah almarhum menjalani operasi empedu di RS Awal Bros di Pekanbaru.

Al Azhar adalah tokoh Melayu yang paling Melayu. Ia pembela budaya Melayu paling depan. Di akhir zaman Orde Baru, ia tergabung dalam gerakan Riau Merdeka. Bersama Tabrani Rab. Mereka, ketika itu, begitu kecewa atas perlakuan pusat ke daerah seperti Riau: kaya minyak, tapi penduduknya begitu miskin. Salah satu yang termiskin di Indonesia.

Berhasil. Bagi hasil 15 persen untuk daerah penghasil minyak dan gas adalah buah perjuangan mereka. Yang sekarang ikut dinikmati daerah seperti Bojonegoro dan Blora.

Belakangan gerakan Riau Merdeka itu melunak menjadi Riau Berdaulat. Memang gerakan Riau Merdeka tidak sama dengan Gerakan Aceh Merdeka. Tidak sampai angkat senjata. Tapi, orang seperti Tabrani Rab dan Al Azhar memang lantang memperjuangkannya.

Termasuk ketika Riau kemudian juga menjadi pusat kelapa sawit Indonesia. Berjuta-juta hektare tanah Riau berubah menjadi perkebunan sawit. Yang dimiliki konglomerat dari luar daerah. Maka, Gerakan Riau Berdaulat sangat kritis menyoroti perizinan sawit. Mereka mengungkap ada 1,8 juta hektare kebun sawit yang perizinannya tidak beres. Mereka menganggap itu kebun ilegal. Harus dikembalikan kepada rakyat Riau.

Al Azhar belakangan terpilih sebagai ketua lembaga adat Melayu di Riau. Ia-lah presiden Melayu sedunia. Istilah resminya: Ketua Umum Lembaga Kerapatan Adat Melayu/Lembaga Adat Melayu Riau.

Tabrani Rab, Yusmar Yusuf, Al Azhar, Dr Chaidir, dan Ny Azlaini Agus adalah tokoh-tokoh pembela Melayu yang utama. Baru Tenas Effendy tokoh sekelas mereka yang meninggal dunia. Ditambah Al Azhar Selasa malam kemarin.

Mereka itu boleh dibilang tokoh Melayu modern. Al Azhar sendiri memperoleh gelar S-2 di Belanda. Ia memperdalam filologi Melayu di Leiden.

Penyair Melayu terkemuka Rida K. Liamsi –nama aslinya bisa Anda baca dari belakang– pinter menjelaskan di mana perbedaan tokoh Melayu baru dan lama.

”Melayu baru lebih memilih sikap mengamuk. Melayu lama lebih memilih sikap merajuk,” ujar Rida yang kumpulan puisinya tak terhingga lagi.

Gerakan Riau Merdeka adalah bentuk amuk mereka. Yang ketika berhasil, ya sudah. Tidak mau lagi mereka merdeka. Berubah menjadi cukup berdaulat. Berdaulat itulah yang kini menjadi fokus perjuangan mereka.

”Apakah ada contoh sikap merajuk di masa lalu?” tanya saya kepada Rida.

”Ada. Merajuk adalah menghindari kekuasaan, menyingkir dan menjauh,” jawabnya. Contohnya, menjadi suku Sakai yang terasing pedalaman. Atau menjadi suku Kedayan yang memilih hidup di atas laut.

Yang unik, semua pejuang itu adalah sastrawan dan budayawan. Artinya: mereka juga intelektual. Hanya penyair terkemuka seperti Sutardji Calzoum Bachri yang tidak terlihat masuk ke gerakan sosial seperti itu.

Al Azhar sendiri tidak pernah masuk ke arena politik. Ia menjadi dosen di Universitas Islam Riau dan Universitas Lancang Kuning. ”Beliau sangat visioner. Jadi acuan Melayu sampai semenanjung,” ujar Rida.

”Istilah di sini beliau itu jadi pancang nibung,” ujar Rida kemarin. Maksudnya, orang seperti Azhar itu menjadi tempat bertanya dan mengadu.

Tentu Al Azhar tidak akan diam ketika budaya Melayu diusik orang. Pun kalau yang mengusik itu tokoh besar seperti menteri agama yang sekarang. Yakni, ketika Menag mengatakan Riau adalah pusat ekstremis.

Al Azhar memang membela habis-habisan Ustad Abdul Somad (UAS). Keduanya sekampung di Rokan Hulu, Riau. UAS pun bersedih mendengar Al Azhar meninggal. UAS sedang di Aceh. Dari Aceh, UAS merekam doa di HP-nya. Dikirim ke Pekanbaru. Untuk diperdengarkan di telinga Azhar yang lagi kritis di rumah sakit.

Doa itulah yang mengantarkan Al Azhar ke alam baka. Dari Aceh, UAS langsung menulis puisi:

”Engkau bela aku saat lara mendera.

Engkau tabalkan Datuk Seri Ulama Setia Negara untuk membantah fitnah dan huru-hara.

Engkau tak pernah minta balas jasa.

Berita sakit pun tak sampai ke telinga.

Saat aku jauh di seberang Sumatera. Datang kabar mengharukan jiwa.

Sempat terkirim Al-Fatihah dan doa. Rupa-rupanya itu pengiring Datuk pergi selamanya. Adapun silap, salah, dan lupa.

Tiada manusia lepas darinya. Biarlah Allah Azza wa Jalla menghapus dan mengganti dengan balasan mulia”.

Tentu tokoh seperti Azhar juga tidak bisa menerima pandangan Barat mengenai tipologi Melayu yang negatif. Yang secara telak diwujudkan dalam satu judul buku: Slow Boat from Malay.

Menurut Azhar, itu cara penjajah untuk menyudutkan Melayu. ”Bagaimana bisa bodoh dan lamban ketika Melayu bisa menciptakan bahasa yang begitu hebat. Yang bisa menyatukan bangsa Indonesia. Dan bisa menyebarkan Islam ke seluruh Nusantara,” kutip Rida dari pendapat Azhar.

Saya juga terus membaca artikel Prof Yusmar:

”Kami berdua bak tangkai bunga yang menjulur dari lelangit Riau. Angkatan awal, 80-an, yang membina kesadaran Melayu (Malay conscience) lewat dialog-dialog kebudayaan serantau dan dunia kepenulisan.

Antara saya dan Azhar, tersalin sejumlah peristiwa ’datang dan pergi’ demi Malay thought (Melayu secara pemikiran/pemikiran Melayu) di ranah gugah dan ranah senyap. Dan saling melengkapi”.

Yusmar dan Azhar memang bebatang setangkai. Mereka adalah tangan kanan dan kiri tubuh Melayu. Nama keduanya selalu diucap beriring pun sampai nun di semenanjung. Dan juga di Jakarta. ”Betawi punya apa. Riau punya dua tembok budaya Melayu yang kukuh,” ujar Ridwan Saidi suatu ketika.

Belakangan dua setangkai itu mencari jalan berbeda. Tanpa berseberangan. ”Biarlah engkau tetap di jalur riuh, saya akan menjalani jalan sepi ini,” tulis Yusmar. Yang terakhir itu lantas masuk ke dunia tasawuf yang suwung. Ia keluar dari gemuruh perjuangan adat Melayu. Tapi, tetap saja Selasa malam itu Yusmar merasa kehilangan salah satu lengannya.

”Selamat jalan sobat ’lengan ku’… menyatulah dalam kilau komet cahaya yang melintas di pucuk ruang sebelah sana…”.(Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Artikel Berjudul Ramayana Potehi

Komentar Pilihan
Setelah membaca artikel di atas, saya lalu kecewa sekali karena pesen mendoan yang datang tempe goreng

Sadewa
Saya sependapat dengan Mahbubani, bahwa pemerintah memang jenius, dalam hal merangkul lawan politik menjadi kawan. Sehingga saat ini praktis tidak ada oposisi yg kuat. Namun Saya juga setuju dengan pendapat Mahbubani lokal (namanya ?anda sudah tahu..) bahwa ketika pemerintah tidak mempunyai oposisi yg kuat, maka “musuh terbesar pemerintah” adalah dirinya sendiri. 1. Pemerintah di awal akan komit memerangi korupsi, memperkuat kpk, tetapi kenyataannya ? (anda sudah tahu). 2. Pemerintah komit bahwa kereta cepat tidak akan menggunakan APBN, tetapi kenyataannya ? (anda sudah tahu juga berita terbarunya). Semua agama mengajarkan bahwa, musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Untuk itu hampir semua agama mengajarkan puasa sebagai alat untuk mengendalikan hawa nafsu. Semoga walaupun tidak ada oposisi yg kuat, pemerintah dapat mengendalikan dirinya sendiri.

Disway 230980
Pak Mahbubani, gini ya, pertama terima kasih sudah menuliskan tt Indonesia dalam perspektif global. Tapi, maaf ya, kami disini ini gak sempat mikir gituan, ada hal yang jauh, sekali lagi jauh lebih penting untuk kami urus, yaitu: 1) apakah pakai BH itu haram atau tidak 2) apakah musik itu haram 3) apakah makan pakai sendok itu boleh atau tidak dll. Begitu lho Pak Mahbu

Hariyanto
Bagi saya, lebih adil rasanya menilai kepemimpinan berhasil atau gagal, setelah purna tugas. Tapi sebagai pengamat, sah sah saja berpendapat, memuji atau sebaliknya. Walaupun orang lebih suka dipuji dari pada dikritik. Membandingkan seorang presiden tentu lebih menarik, jika dibandingkan dengan presiden sebelum dan setelahnya. Paling tidak menjadi sangat menarik bagi calon pemimpin, agar mencontoh yang baiknya, dan menghindari keburukannya. Kebaikan dan keburukan yang pasti dimiliki setiap manusia, termasuk seorang presiden sekalipun.

Leong Putu
Diberi pujian aja, kometarnya serius banget.et.et… Tidak kebanyang kalau dikasih 2T…. Hihihi

Lbs
Bahwa ada keberhasilan Pemerintahan P Jokowi tentu kita harus akui. Termasuk yg mencolok: jalan tol itu. Kalau menjaga persatuan dan kesatuan sy rasa itu biasa sj, sejak Orba-pun semua presiden bisa. Tp tetaplah bg sy, secara umum pemerintah masih gagal. Krn gagal mensejahterakan rakyatnya. Indonesia masih termasuk negara miskin. Tahun 70-an pendapatan perkapita Indonesia sejajar dg Korsel dan Malaysia. Sekarang pendapatan perkapita kita hanya sepersepuluh dr Korsel, sepertiga dr Malaysia. Dan blm ada pemimpin yg berhasil mengejar ketertinggalan itu. Dan semua ini membuat kita gregetan. Mengingat potensi yg kita miliki untuk mengejar ketertinggalan tidak kurang2nya. Tp blm berhasil d kelola oleh pemimpin2 negara kita. Pun dana besar yg sudah ada untuk mengentaskan kemiskinan. Tdk bisa bermanfaat secara optimal, krn amburadulnya data penduduk miskin dan buruknya program2 yg menyertainya, terutama pada detail2 program. Apapun itu, yg jelas kita masih miskin. Biarlah org lain memuji kita. Tp berdosa rasanya jika sy sbg orang Indonesia harus menyanjung2 pemerintah. Rasanya seperti berhianat kepada saudara2 kita yg hanya ingin menjadi buruh kasar-babu sj harus meninggalkan keluarga dan anak2nya ke luar negeri. Termasuk ke Malaysia itu. Berhianat kepada mereka yg terlunta2 hidup d jalanan, pun mereka yg dalam keadaan cacat. Ibu yg terpaksa menjual diri untuk menghidupi anak2nya. Berhianat kepada remaja2 kita yg terpaksa menjual diri karena himpitan ekonomi. Berhianat kepada anak2 putus sekolah krn kekurangan biaya. Anak2 yg terpaksa bekerja sebelum waktunya. Berhianat kepada orang2 jompo yg pada usia senjanya masih harus berjibaku dijalanan, di sawah2, di tumpukan2 sampah sekedar untuk menyambung hidup…

Doyan utang
kadang kadang mblenger buka Disway,.. tapi mau gimana lagi wong sudah lama gak langganan koran, maksudnya sudah lama gak sarapan di warung yg ada korannya. tapi kalo masih getol buka Disway itu hanya karena menunggu komennya Leong Putu sang juragan/agen tunggal obat kuat cap kadal.

(Visited 28 times, 1 visits today)

Komentar