Selasa, 9 Agustus 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Tak Ada Dokter Forensik, Mayat Menunggu Berhari-hari di RSUD Dunda Limboto

Oleh Admin Hargo , dalam Metropolis , pada Senin, 4 Juli 2022 | 18:05 Tag: , ,
  Foto: Sucipto Mokodompis/HARGO

Hargo.co.id, GORONTALO – Nasib malang harus dialami Asni Karim (52), warga Desa Daenaa, Kecamatan Limboto Barat. Usahanya untuk mencari keadilan atas kematian suaminya, Jafar Hengua (55) harus terkendala akibat tidak adanya Dokter forensik di RSUD MM Dunda Limboto.

Hal tersebut bermula setelah kematian suaminya, Jafar Hengua (55) yang ditemukan meninggal terapung di Sungai Bondula, Limboto, Jumat (1/7/2022) pekan kemarin. Asni Karim mengajukan autopsi ke Satreskrim Polres Gorontalo karena menduga ada kejanggalan dalam kematian suaminya tersebut.

Meski sudah melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian. Permintaan autopsi tersebut belum dapat segera ditindaklanjuti, karena tidak ada dokter forensik di RSUD MM Dunda Limboto.

“Kami meminta di autopsi, biar jelas apa penyebab suami saya meninggal. Lebar luka di bagian kepala 6 sentimeter dengan kedalaman 2 sentimeter, itu hasil pemeriksaan,” kata Asni saat ditemui di depan kamar mayat RSUD MM Dunda Limboto, Sabtu (2/7/2022).

Informasi yang diterimanya, dokter forensik yang akan melakukan otopsi terhadap suaminya tersebut bertugas di Pohuwato dan saat ini masih berada di Manado, Sulawesi Utara. Dirinya hanya bisa berharap agar dokter forensik itu bisa segera tiba di Gorontalo.

“Dokter yang akan menangani masih di Manado, begitu penyampaian polisi tadi malam. Dokter belum bisa datang karena masih menghadiri acara duka keluarga 40 hari. Kami akan tetap menunggu disini, paling pulang makan setelah itu balik lagi,” kata Asni Karim.

Benarkah RSUD MM Dunda Limboto tidak memiliki dokter forensik? Hal tersebut diakui oleh Wakil Direktur Bidang Pelayanan RSUD MM Dunda Limboto, dr. Rila Rita Thaib. Dirinya membenarkan bahwa rumah sakit daerah itu tidak memiliki dokter forensik untuk otopsi dalam.

“Kalau untuk autopsi dalam, kami harus mendatangkan dokter forensik. Kami belum punya dokter forensik,” jawab Rila Rita Thaib saat dihubungi wartawan melalui sambungan telepon.

Saat ditanyakan terkait persoalan yang dialami Asni Karim, Rila Rita Thaib mengatakan, jika keluarga tetap kekeh meminta dilakukan autopsi maka tanggung jawab mendatangkan dokter forensik adalah tanggungan keluarga. Hal yang sama juga berlaku bagi pihak kepolisian.

“Jika permintaan itu dari pihak keluarga, maka mereka sendiri yang harus mendatangkan dokter forensik,” Katanya menegaskan.

Sebelumnya, Jafar Hengua ditemukan tewas bersimbah darah pada bagian kepala di Sungai Bondula. Jefri Hengua (23), anak korban mengatakan, Ayahnya sempat terlibat adu mulut di lokasi arena sabung ayam di Desa Ombulo, Kecamatan Limboto Barat

Jefri Karim memperkirakan peristiwa itu terjadi sekitar pukul 17.30 WITA hari ini menjelang sholat Magrib. Usai terlibat adu mulut, korban lalu dikejar oleh sejumlah orang. Korban lantas mengajak Jefri untuk lari. Ada sekitar dua atau tiga orang yang tidak dikenalnya berusaha mengejar dengan menggunakan pisau. Keduanya berlari ke arah terpisah.

Setelah peristiwa tersebut, dirinya kembali ke tempat sabung ayam untuk mengambil motor yang tertinggal saat dikejar tadi. Disitulah dirinya menerima menerima informasi bahwa ayahnya ditemukan tak bernyawa di Sungai Bondula.

Melki Rasyid (38), salah seorang saksi mengatakan, korban ditemukan sekitar pukul 18.00 Wita, lokasinya sekitar 150 meter dari lokasi arena sabung ayam. Dirinya juga mengaku sempat mendengar korban terlibat adu mulut di lokasi tersebut.

Agus Kadir (30), saksi lain mengungkapkan korban sudah tak bernyawa saat ditemukan di sungai. Saat itu, dirinya dan warga yang lain mengira bahwa korban masih hidup dan menyeretnya ke tepi sungai.

Sungai yang menjadi lokasi penemuan Jasad Jafar Hengua memiliki kedalaman setinggi leher orang dewasa dengan lebar kurang lebih 5 meter. Usai ditemukan, jasad Jafar Hengua dibawah ke RSUD MM Dunda. Jenazah dipindahkan ke kamar mayat setelah menjalani sejumlah pemeriksaan di ruang OK/Bedah.(***)

Penulis: Sucipto Mokodompis

(Visited 1.592 times, 1 visits today)

Komentar