Tiga Jam yang Berat; Baru Saja Disapu, Ada yang Buang Sampah Lagi

×

Tiga Jam yang Berat; Baru Saja Disapu, Ada yang Buang Sampah Lagi

Sebarkan artikel ini
Oli Musa yang sudah menjadi petugas kebersihan sejak 13 tahun di Kota Gorontalo sedang membersihkan ruas jalan Nani Wartabone Kota Gorontalo yang dipenuhi sampah.(HERMANSYAH SIDIKATI/GORONTALO POST)

Menengok Aktivitas Sejumlah Pahlawan Adipura Kota Gorontalo

Hargo.co.id GORONTALO - Mereka adalah orang-orang yang paling berjasa ketika Kota Gorontalo beberapa kali meraih trofi Adipura. Petugas kebersihan yang sering beraktivitas sebelum datangnya Subuh ini bertugas dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab.

Hermansyah Sidikati – Kota Gorontalo. Sekitar pukul 03.00 Wita dini hari, Arfan Domili (21) sudah harus siap-siap berangkat kerja. Arfan langsung menancap gas sepeda motornya dari Desa Tabongo Barat, Kecamatan Batudaa menuju pusat Kota Gorontalo.

Alamat tempat kerjanya yakni jalan Agus Salim Kota Gorontalo. Tidak ada pakaian dinas, yang ada hanya peralatan kebersihan seadanya. Ternyata, Arfan merupakan salah seorang petugas kebersihan yang menyapu jalan raya.

Setiap hari, Arfan sudah meninggalkan sang isteri dan anaknya yang masih tertidur lelap sejak pukul 03.00 Wita. “Berangkat dari rumah jam 3 subuh. Sesampainya di tempat dimana saya ditugaskan jam 4 subuh dan langsung mulai membersihkan jalan,” ujar Arfan ketika berbincang dengan wartawan koran ini.

Sapu, karung dan sekop sampah selalu melekat di tangan Arfan. Peralatan itulah yang menjadi sarana untuk mengais rezeki. Sudah lima tahun dia bergelut dengan debu dan sampah jalanan pada dini hari. “Banyak suka duka yang dirasakan. Senang bekerja karena bisa menjaga lingkungan tetap bersih, sedih ketika hujan di pagi hari dan gaji yang diperoleh pas-pasan untuk keluarga,” jelas pria yang baru satu bulan menikah ini.

Suasana dingin dan hujan merupakan hal yang tidak disukai Arfan. Ketika aspal basah, sampah dedaunan, pasir dan lainnya, diakuinya, sulit dibersihkan. “Lokasi tempat saya juga di Jalan Agus Salim kompleks pusat penjualan HP ini paling banyak sampahnya.

Dari puntung rokok, sampah kertas, dedaunan dan pasir,” tuturnya sambil memungut sampah yang dibuang sembarangan.
Meski hanya tiga jam dalam sehari, bekerja sebagai sapu jalan lumayan berat. Karena sampah di jalanan tidak pernah habis.

Di lokasi yang telah dia bersihkan misalnya. Meski hanya sebentar saja, lagi-lagi ditemukan sampah dari pengguna jalan maupun pejalan kaki. “Saya berpesan agar masyarakat tidak membuang sampah sembarangan di jalanan. Meski pun ini tugas kami, setidaknya kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaga kebersihan di kota ini,” tegasnya.

Sementara itu, di jalan Nani Wartabone, wartawan bertemu dengan Oli Musa (52) yang juga sedang menyapu sampah yang berserakan di jalan. Ibu dua anak yang sudah 13 tahun bekerja menjadi penyapu jalan ini begitu teliti sehingga tidak satupun sampah yang tersisa.

Sambil menyapu jalan, Oli Musa bercerita sangat senang dengan pekerjaannya saat ini. “Ada hikmah juga, turun dari rumah jam 4 subuh sampai jam 8 pagi. Selain bisa berolahraga pagi, hasilnya masyarakat nyaman karena bersih,” ungkap warga Kelurahan Dembe Jaya, Kota Utara itu.

Oli Musa mengaku, gaji yang dia dapatkan Rp 1,3 Juta per bulan belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Apalagi, seorang anaknya sudah duduk di bangku kuliah. “Saya berharap pengasilan kita ditambah. Kalau pun tidak, ada bantuan dari pemerintah. Kami orang kecil ini juga punya harapan besar untuk mewujudkan impian kami,” ucapnya penuh harap. (ndi/hg)