Tradisi Jelang Panen Raya, Rica Murah Beras Naik

×

Tradisi Jelang Panen Raya, Rica Murah Beras Naik

Share this article
Para pedagang beras di pasar tradisional Limboto saat melayani para pembeli. Harga beras di pasar tradisional ini, mengalami kenaikan sejak pertengahan ramadan lalu

Hargo.co.id GORONTALO – Sejumlah harga barang pangan di pasar tradisional Limboto masih tetap stabil. Hanya saja, harga beras terpantau mulai merangkak naik. Dari pantauan Gorontalo Post di pasar tradisional Limboto, Selasa (19/7), harga bawang merah dan bawang putih mulai menurun dimana rata-rata dijual Rp 45 Ribu per Kilogram (Kg). Sedangkan harga cabe rawit atau rica dijual mulai Rp 20 Ribu per Kg.

Sementara tomat rata-rata dibanderol mulai Rp 8.000 hingga Rp 10 Ribu per Kg. Adapaun komoditi lain seperti gula dijual Rp 15 Ribu per Kg, ayam boiler atau pedaging Rp 50 Ribu serta daging dijual Rp 110 Ribu per Kg.  Namun, yang menjadi perhatian disini adalah harga beras yang mulai mengalami kenaikan.

Dari pantauan Gorontalo Post, kemarin, harga beras untuk jenis Nurdin, Vitaloca, Membramo, IR64 rata-rata dijual dengan harga Rp 10 Ribu per liter. Sedangkan jenis Ciheran, dijual mulai Rp 9.000 per liter. Adapun beras yang diecer Rp 8.500 per liter, kualitasnya kurang. Sukrin Amo, salah seorang pedagang beras mengaku kenaikan harga beras ini sudah terjadi sejak pertengahan bulan Ramadan lalu.

Disamping dipengaruhi harga beras skala nasional yang cenderung naik, kenaikan harga beras kali ini juga dipengaruhi akibat menjelang musim panen raya. “Itu so tradisi. Setiap menjelang panen raya, harga beras pasti mo naik. Panen raya kan tinggal sekitar 1 bulan lagi,” ungkap Sukrin.
Haji Mahmud, salah seorang pedagang beras lainnya mengaku senada.

Namun menurutnya, kenaikan harga beras juga tak lain dipicu oleh permainan pedagang besar di Gorontalo. Dia mengatakan, saat ini pasokan beras dari wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng) cs sudah kosong. Sementara permintaan dari wilayah Manado cs sedang bergairah.

“Jadi, ada pegadang besar yang sengaja menyimpan berasnya di gudang menunggu saat-saat seperti ini. Biasa mereka (pedagang besar) menyimpan beras dari hasil panen lalu,” jelas dia.

Sementara itu, pada pengembangan klaster beras yang digagas Bank Indonesia perwakilan Gorontalo, Bupati Gorontalo Nelson Pomalingo sempat mengeluarkan pernyataan jika pihaknya berencana akan mengintervensi peredaran beras. “Dari hasil analisis, setelah musim panen beras dibawa ke luar daerah (Manado,red). Tapi setelah itu dijual lagi ke sini,” katanya.(axl/hargo)