Rabu, 1 Desember 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



WASPADA ! Setahun 4.786 Kasus Kriminalitas Terjadi

Oleh Berita Hargo , dalam Metropolis , pada Selasa, 3 Januari 2017 | 13:03 PM Tag: ,
  

Hargo.co.id GORONTALO – Provinsi Gorontalo disebut-sebut sebagai daerah teraman di Indonesia. Namun ternyata, kasus kriminalitas yang terjadi di negeri Serambi Madinah ini cukup menggunung.

Bayangkan saja, dari data Polda Gorontalo, selama setahun kemarin (2016), tindak kriminal mencapai 4.786 kasus.

Informasi yang dirangkum Gorontalo Post, dari jumlah 4.786, ada sembilan yang diberikan catatan penting dan butuh perhatian serius.

Yang berada paling top, adalah kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Data ini menjadi bukti bahwa, kekerasan terhadap perempuan di Gorontalo sudah sangat memiriskan.

Setelah KDRT, berturut-turut kasus lainnya yang juga patut untuk mendapatkan perhatian publik adalah kasus perjudian, pencurian kendaraan bermotor (Curanmor),

kasus narkoba, korupsi, Pencurian dengan kekerasan (Curas), Pencurian dengan Pemberatan (curat), illegal fishing, dan penyelundupan.

Sementara jika dilihat dari kasus yang paling menonjol, masih diungguli tindak pidana penganiayaan, pencurian biasa dan penipuan.

Kapolda Gorontalo Brigjend Pol Rachmad Fudail dalam Konfersi Pers yang digelar Sabtu, (31/12) menyebutkan, meski kasus kriminal di tahun 2016 masih tinggi, namun bila dibandingkan dengan tahun 2015, jumlah tersebut masih lebih kecil.

Menurutnya, data tahun 2015 menunjukan tindak kriminal di Gorontalo mencapai 5.473 kasus. “Artinya di tahun 2016 ada penurunan sebanyak 687 kasus,” ungkapnya.

Lebih lanjut disampaikan Rachmad Fudail, bila di hitung per periode, pada tahun 2015 terjadi sebanyak 543 kasus dan tahun 2016 terjadi sebanyak 308 kasus,

sehingga terjadi penurunan kasus sebesar 43,2 persen jika dibandingkan dengan periode tahun 2015. “Jadi dalam tahun 2016, selang waktu 1 x 24 jam, risiko terjadinya kejahatan di Provinsi Gorontalo setiap 1 jam, 49 menit dan 49 detik,” terangnya.

Masih menurut Rachmat. Selain tindakan kriminal yang marak tersebut, ia menyebutkan, fenomena yang perlu menjadi catatan penting pula kedepan adalah potensi munculnya konflik-konflik sosial antar kampanung/kelompok masyarakat.

Meski belum terlalu marak, namun pergeseran menuju maraknya kasus itu sudah mulai terlihat dari gejala yang mudah terprovokasi.

Rachmat mendorong peran dari Bhabinkamtibmas bersama Babinsa dan aparat pemerintah desa/kelurahan dapat berperan lebih maksimal untuk menangani hal ini.

Setiap masyarakat yagn dilanda persoalan harus mampu dimediasi dengan baik sehingga tidak meluas menjadi konflik yang berkepanjangan. “Ini masuk dalam visi dan misi Kapolri yang harus kita wujudkan,” tandasnya.(tr-45/hargo)

(Visited 1 times, 1 visits today)

Komentar