Adu Nasib di Perantauan

×

Adu Nasib di Perantauan

Share this article

Menjadi seorang ‘Anak Rantau’ adalah gelar yang saat ini banyak disandang oleh sebagian orang, baik merantau untuk menempuh pendidikan, atau pun merantau demi pekerjaan. Meski demikian, merantau untuk mengadu nasib bukanlah hal yang mudah, terlebih perihal rindu pada kedua orangtua.

Tak terkecuali juga yang dirasakan Siti Nurhalizah Tjepah. Kerja di PMI DKI Jakarta sebagai petugas Laboratorium Pasien Service, membuat ia harus merantau tinggal di Jakarta meninggalkan kedua orangtuanya. Gadis yang kerap disapa Ica ini mengaku seringkali didera rasa rindu pada kedua orangtua, namun itu mampu ia atasi karena memiliki teman sekamar yang baik-baik.

“Kehidupan Ica di rantau Alhamdulillah baik karena Ica sekamar bertiga dengan orang Depok dan Purworejo yang juga baik-baik”, ungkapnya.

Selain itu, menurutnya jadi Anak Rantau itu sebenarnya tidaklah sulit asalkan kita tahu bagaimana mengobati rindu.

“Kalau rindu kampung halaman sih, Ica tinggat lihat saja media sosial keluarga dan teman-teman di Gorontalo”, tukas gadis yang gemar makan jengkol ini.

Setelah dari rantau, ia berniat kembali ke Gorontalo untuk mengaplikasikan ilmu yang ia dapatkan selama di rantau, seperti memberi informasi tentang transfusi darah kepada masyarakat awam yang belum mengerti benar soal transfusi darah.

Ia berharap kedepannya lebih banyak lagi anak-anak muda Gorontalo yang merantau menuntut ilmu, sehingga bisa kembali ke Gorontalo untuk mengaplikasikan ilmunya, dan membuat Gorontalo lebih maju lagi. (zt-11)