Kamis, 7 Juli 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Alm. Irfin Nehrun, Aktifis yang Paripurna (Mengenang Tujuh Hari Kepergiannya)

Oleh Berita Hargo , dalam Features Gorontalo , pada Rabu, 27 Juni 2018 | 02:16 Tag: ,
  

Hargo.co.id BUTUH – perjuangan berat bagi saya untuk bisa mengetik satu demi satu huruf menjadi kata, selanjutnya menjadi kalimat, dan pada akhirnya rampung menjadi sebuah tulisan singkat ini. Bukan karena baru belajar menulis, sebab boleh dibilang menulis catatan-catatan singkat seperti ini adalah bagian dari pekerjaan saya sehari-hari selama beberapa tahun terakhir ini.

Namun yang sangat mengganjal dalam fikiran dan jiwa ini, justru adalah karena harus menulis satu catatan biografi singkat seorang sosok sahabat lebih dari saudara, yang selama 13 tahun mengarungi bahtera dinamika kehidupan ini secara bersama-sama. Dengan berbagai suka duka, canda tawa, susah dan senang, tapi kini dia telah pergi lebih dahulu menghadap panggilan Ilahirabbi.

Adalah Irfin Nehrun, pemuda kelahiran Tolinggula, Gorontalo Utara, 25 Februari 1985, bertemu akrab pertama kali tepat di bawah kaki Menara Keagungan Limboto. Saat kami satu kelompok kecil mahasiswa sedang menyuarakan aspirasi kritis atas salah satu kebijakan pemerintah saat itu yang dianggap kurang populis. Aksi itupun dilakukan secara rutin kurang lebih berlangsung selama satu bulan penuh di bawah simbol kemegahan ‘kota’ Limboto, Menara Keagungan (yang sekarang berganti nama menjadi Pakaya Tower).

Almarhum yang kala itu tahun 2005, tercatat sebagai mahasiswa semester satu di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gorontalo, rupanya menaruh simpati pada gerakan-gerakan sosial yang berbau perjuangan kerakyatan.

Melihat antusias seorang mahasiswa baru yang hampir setiap hari duduk dipojok kaki menara dan serius memperhatikan setiap episode dari ritual pergerakan mahasiswa itu, rupanya menarik perhatian dan mendorong kami untuk memanggil dan langsung memerintahkannya untuk berpidato layaknya orator jalanan, dengan malu-malu dirinyapun menolak dengan alasan belum bisa bicara didepan banyak orang.

Namun, setelah mendapat desakan berulang-ulang, barulah dirinya memberanikan diri mengangkat ‘senjata’ khas perjuangan mahasiswa (meghaphone), mengepalkan tangan kanannya dan meneriakkan suara-suara lantang ‘perlawanan’.

Walhasil, tanpa bermaksud melebih-libihkan cerita ini, rupanya itulah cikal bakal lahirnya sosok orator intelektual kritis yang handal, yang terkenal dengan istilah pembicara yang hanya akan berhenti bicara saat aksi jika di sela-sela orasinya kebetulan terdengar kumandang Azan (panggilan Sholat) apakah Zuhur, Ashar atau Magrib, sungguh kehadirannya merupakan anugerah terindah bagi pergerakan mahasiswa di zamannya.

Lelaki yang ditempa dalam perkaderan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sampai pada level Intermediate Training (Latihan Kader II) ini, terkenal dengan kecerdasan, kesantunan, kedisiplinan, dan ketekunannya.

Tak heran dirinyapun dipercayakan memegang berbagai jabatan-jabatan strategis, diantaranya Presiden Mahasiswa Universitas Gorontalo, Ketua Umum Majelis Sinergi Kalam Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (Masika-ICMI) Orda Kabupaten Gorontalo, Wakil Ketua DPD KNPI Provinsi Gorontalo, Wakil Ketua Pemuda Pancasila Provinsi Gorontalo, dan berbagai jabatan-jabatan Ormas dan Organisasi kepemudaan lainnya, serta terakhir sehari sebelum meninggal terpilih sebagai Ketua Ikatan Alumni disekolah Menengah Pertama di daerah asalnya di kecamatan Tolinggola, kabupaten Gorontalo Utara, tempat dimana dulu dia menimba ilmu.

Di lingkungan kampus sendiri, lelaki lulusan Pasca Sarjana Universitas Hasanuddin Makassar dengan predikat yang sangat memuaskan ini, tercatat sebagai dosen pengajar dan menjabat sebagai Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan di Universitas Gorontalo. Serta terkenal sebagai sosok akademisi yang senang bergelut dengan penelitian ilmiah.

Adapun didunia politik praktis sendiri, almarhum tercatat sebagai wakil ekretaris DPD Partai Golkar Provinsi Gorontalo, Staf Ahli Fraksi Partai Golkar DPRD Provinsi Gorontalo. Serta salah satu tokoh kunci pencetus lahirnya komunitas beringin muda Gorontalo. dengan trakc record kinerja dan dedikasinya yang tinggi.

Sosok politisi muda partai Golkar yang terkenal cerdas, tegas lagi teliti ini, tepat tiga hari sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, resmi telah ditetapkan diinternal Partai Golkar sebagai Bakal Calon Anggota DPR-RI dari daerah pemilihan Provinsi Gorontalo, mendampingi Bapak Roem Kono dan Ibu Idah Sahidah Rusli Habibie.

Dari penggalan-penggalan cerita sukses perjalanan karir almarhum di atas, tak membuat dirinya jumawa, berubah sikap dan keperibadiannya. Justru menjadikan sosok ayah satu anak ini, semakin rendah diri dan banyak berintrosfeksi.

Ibarat ilmu padi, ‘semakin berisi semakin merunduk’, sehingga bagi saya, gelar paripurna yang dinobatkan pada dirinya bukanlah dikarenakan banyaknya posisi dan jabatan yang diembannya. Tapi justru karena kepribadiannya yang terbilang mulia, tidak berlebihan rasanya jika saya mencoba merumuskan beberapa kesimpulan atas pribadi almarhum.

(Visited 2 times, 1 visits today)

Laman: 1 2


Komentar