Sekitar sebulan yang lalu di dua desa tersebut terdapat ada sapi yang tewas mendadak. Ada pula sapi yang sakit dengan kondisi kejang-kejang, sebelum mati, sapi itu disembelih warga.
Dagingnya lalu dikonsumsi. Total sapi yang mati maupun sempat disembelih warga di dua desa tersebut tidak kurang dari 20 ekor. Â Sayang informasi adanya sapi yang mati mendadak ini tertutup.
Baik masyarakat maupun pemerintah desa setempat tidak melaporkanya ke posko penanggulangan antraks yang dibentuk Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Gorontalo.
Mewabahnya antraks di dua desa tersebut baru terungkap setelah salah satu orang tua penderita antraks di Desa Pangadaa membawa anaknya berobat ke Puskesmas Dunggaliyo.
Kulit anak tersebut mengalami luka membusuk. Setelah diperiksa, penyakit kulit yang diderita anak itu menunjukan gejala serangan virus antraks.
Setelah ditemukannya kasus tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo pun langsung melakukan survilans ke Desa Pangadaa.Â
