Menurutnya, komunikasi lewat handphone sifatnya sangat rahasia. “Ada jam-jam tertentu baru bisa berkomunikasi. Itupun kebanyakan via sms dengan bahasa sandi,†tuturnya.
Melalui jaringan yang telah dibentuk, kemudian konsumen menghubungi oknum Napi tersebut. Oleh oknum Napi itu kemudian menghubungi bandar yang berada di luar penjara. “Konsumen kenal dengan penghuni Napi. Di Lapas konsumen dan orang dalam tetap berkomunikasi, kemudian cari Narkoba walaupun di dalam penjara,†jelasnya.
Dia juga mengaku untuk mendapatkan paket narkoba sejenis sabu-sabu biasanya pelanggan yang ada dalam lapas harus menyediakan uang Rp 1 juta perpaket kecil (lebih kurang 0,5 gram).
Lantas bagaimana bila diketahui? Mantan napi narkoba lainnya mengaku, sudah ada yang memang siap pasang badan. Dalam artian, orang tersebut tugasnya mengamankan jaringan.
