Kamis, 29 September 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



‘Balapan Komentar’ Usai Balapan Motor Dihentikan, Kualitas IMI Diragukan? 

Oleh Admin Hargo , dalam Metropolis , pada Rabu, 16 Maret 2022 | 03:05 Tag: , ,
  Sirkuit Sang Profesor terletak di Kabupaten Gorontalo baru-baru ini makan korban. (Foto: Istimewa)

Hargo.co.id, GORONTALO – Insiden kecelakaan yang menewaskan salah satu pembalap di ajang Kejuaraan Daerah Bupati Gorontalo Cup 2022 mengundang reaksi publik. Sejumlah komentar datang dari berbagai pihak. Tak hanya komentar lewat media sosial, insiden tersebut juga mendapatkan komentar langsung dari berbagai pihak, mulai dari para pembalap hingga Anggota DPRD.

Komentar terhadap lomba yang dilangsungkan di Sirkuit Sang Profesor pada Sabtu 12 Maret 2022 itu kebanyakan mengarah ke kondisi sirkuit yang menurut sejumlah pihak belum layak untuk menjadi tempat pelaksanaan lomba. Beberapa hal seperti kurangnya fasilitas dan hingga kondisi aspal tidak luput dari komentar tersebut.

Di dunia balap kendaraan bermotor, kecelakaan memang sering menimpa pembalap di lintasan sirkuit. Bahkan, pembalap sekelas Marco Simoncelli bisa meninggal di arena balapan. Padahal sirkuit sepang, malaysia termasuk sirkuit yang diakui oleh lembaga pemegang hak komersial sepeda motor MotoGP. Saat itu, tidak ada pembalap yang melayangkan protes terhadap sirkuit saat perlombaan semetara berlangsung atau setelah dilaksanakan kegiatan. 

Di Sirkuit Mandalika misalnya, para pembalap melayangkan protes terkait kelayakan aspal sirkuit sebelum perlombaan digelar. Beberapa pembalap bahkan secara terang terangan mengatakan sirkuit tersebut belum layak. Hal ini di respon oleh pengelola dengan memperbaiki kualitas aspal agar sirkuit tersebut benar-benar layak untuk dilintasi pembalap.

Dalam beberapa insiden kecelakaan yang menyebabkan cedera serius terhadap pembalap bahkan membuatnya nyaris tewas, pembalap kebanyakan akan berkomentar atau juga protes terkait sportivitas sesama pembalap, bukan sirkuitnya.

Kembali ke sirkuit Sang Profesor, jika sirkuit ini tidak layak, lantas kenapa panitia tetap melaksanakan lomba? Hal ini dijawab oleh Ketua Panitia pelaksana Kejuaraan Daerah Bupati Gorontalo Cup 2022, Roni Sampir. Dirinya mengatakan, pihaknya sudah melewati beberapa tahapan sebelum lomba tersebut diselenggarakan.

“Pertama kita melakukan rapat dengan IMI, setelah rapat IMI melakukan inspeksi terhadap sirkuit dan hasilnya inspeksi dari IMI merekomendasikan bahwa sirkuit ini layak untuk digunakan. Setelah mendapatkan rekomendasi, kita kemudian meminta izin dari kepolisian, Satgas Covid dan lain lain. Semuanya memenuhi syarat,” kata Roni Sampir.

Dirinya menegaskan, Pihaknya tidak akan menyelenggarakan lomba tersebut jika tidak mendapatkan ijin resmi dari pihak terkait, terutama Dari IMI selaku lembaga yang berwenang dalam pelaksanaan lomba otomotif.

Apa itu IMI? IMI adalah singkatan dari Ikatan Motor Indonesia. Organisasi ini diambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1950 dari Pemerintah Hindia Belanda. Hal tersebut sekaligus merubah namanya menjadi IMI dari yang sebelumnya bernama Indonesische Motor Club (IMC). Organisasi ini juga mendapatkan pengakuan dan pengesahan dari Badan-Badan Internasional seperti AIT, FIA, FIM dan OTA.

“IMI berkewajiban dalam membuat aturan, serta mengawasi jalannya olahraga otomotif, termasuk program-program pariwisata dan berpartisipasi dalam menciptakan keamanan lalu lintas dan ketertiban di jalan raya kepada masyarakat dan khususnya untuk semua penggemar motor sport,” tulis IMI dalam akun resminya imi.co.id.

Apakah Sirkuit Sang Profesor layak? Hal tersebut dijawab dengan tegas oleh Ketua IMI Provinsi Gorontalo Ridwan Bobihoe. Dirinya menegaskan, Sirkuit Sang Profesor sangat layak untuk dijadikan arena balap. Pihaknya sudah beberapa kali melakukan inspeksi ke sirkuit tersebut, sebelum kemudian menyatakan sirkuit itu layak.

“Sirkuit ini sangat layak, karena ini kali kedua yang kita lakukan, sebelum pandemi kemarin kita telah melaksanakan yang pertama dan yang kedua ini. Seandainya kita tidak terhalang oleh pandemi, mungkin ini event yang ke 20 kalinya dilaksanakan di Sirkuit Sang Profesor,” kata Ridwan Bobihoe saat diwawancarai awak Media.

Melalui Pernyataan tersebut, Ridwan Bobihoe meyakinkan publik baik masyarakat maupun pembalap bahwa sirkuit itu layak untuk digunakan sebagai lokasi penyelenggaraan lomba. Keputusan untuk mengeluarkan Rekomendasi terkait Kelayakan sirkuit tentunya dilaksanakan dengan penuh pertimbangan dan rasa tanggung jawab. Sebab, organisasi sebesar IMI dituntut untuk bekerja secara profesional.

“Insiden kemarin murni adalah kecelakaan dalam balap. itu human error,” kata Ridwan Bobihoe.

Dengan adanya rekomendasi dari IMI selaku lembaga yang berkewajiban dalam membuat aturan serta mengawasi jalannya olahraga otomotif tersebut, apakah kelayakan Sirkuit yang Profesor masih patut dipertanyakan? jika tidak layak, Apakah Kualitas IMI dalam mengeluarkan Rekomendasi masih perlu dipertanyakan? Di negara demokrasi seperti Indonesia, hal tersebut adalah hak setiap orang untuk menilai sesuai kapasitasnya.

Tanggapan Pihak Keluarga

Insiden kecelakaan yang menyebabkan meninggalnya Royn Polone ini tentunya menyebabkan duka yang mendalam dari orang orang terdekat. Terutama keluarga yang ditinggalkan oleh pembalap berusia 22 tahun asal Desa Ilangata, Kecamatan Anggrek Kabupaten Gorontalo Utara itu.

Namun, hal berbeda ditujukan oleh pihak keluarga. Mereka sama sekali tidak mempersoalkan sirkuit dan enggan berkomentar terkait hal tersebut.

“Kami selaku keluarga korban tidak akan berbicara terkait hal yang bukan kapasitas kami, apalagi kami bukan ahlinya. Jangan sampai kita berbicara ini itu, padahal kita tidak punya keahlian untuk itu. Apa yang menimpa keluarga kami, semuanya kami serahkan kepada pihak yang berwenang dan memiliki kapasitas untuk itu,” kata Matran Lasunte, salah seorang keluarga korban.

Dirinya mengakui, saat ini pihak keluarga memang tengah mempersoalkan terkait Perlombaan tersebut. Namun yang menjadi persoalan bukanlah sirkuit. Dari beberapa video yang beredar di media sosial, pihak keluarga melihat adanya dugaan tindakan tidak sportif yang sengaja dilakukan oleh salah satu pembalap.

“Kami hanya fokus terhadap insiden sesaat sebelum tragedi itu. Tapi, tentu saja keluarga tidak mau memvonis atau mengambil sikap sendiri. Kita menghargai hukum yang berlaku dan tentu saja yang berwenang adalah pihak untuk melakukan penyelidikan hingga penyidikan adalah pihak kepolisian. Termasuk juga terkait laporan ini, semuanya kita percayakan ke pihak yang berwenang dan memiliki kapasitas untuk itu,” katanya menandaskan. (***)

 

Penulis : Sucipto Mokodompis

(Visited 39 times, 1 visits today)

Komentar