HeadlineKabar Nusantara

Elnusa Petrofin Bawa Energi Hingga Pelosok Negeri, Penyambung Nadi Nelayan di Sentra Sagela

×

Elnusa Petrofin Bawa Energi Hingga Pelosok Negeri, Penyambung Nadi Nelayan di Sentra Sagela

Sebarkan artikel ini
Elnusa Petrofin Bawa Energi Hingga Pelosok Negeri, Penyambung Nadi Nelayan di Sentra Sagela
MENEMBUS PELOSOK - Awak Mobil Tangki (AMT) Elnusa Patrofin menyiapkan armada bermuatan BBM kapasitas 5000 liter untuk didistribusikan ke SPBU di wilayah pelosok. (foto: dok- elnusa petrofin)

Hargo.co.id, GORONTALO – Suasana masih terik, baru selesai salat zuhur, namun dermaga nelayan Desa Bangga, Kecamatan Paguyaman Pantai, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, Ahad (31/5/2026) sudah ramai dengan hiruk pikuk nelayan.

Mereka mulai berdatangan dan memadati sebuah bangunan berukuran 5×5 meter di tepi pantai yang menjadi titik kumpul para nelayan. Di tempat ini, mereka mulai mepersiapkan segala sesuatunya, termasuk pukat,dan bahan bakar minyak (BBM) yang menjadi kebutuhan utama untuk melaut.

“Di dermaga ini, tempat kami berkumpul sebelum melaut, ya termasuk tempat kumpul ibu-ibu menunggu kami pulang dari laut,”kata Takim Patta, nelayan ikan sagela atau roa di Desa Bangga.

SIAP MELAUT – Takim Patta dan rekannya sesama nelayan mempersiakan jaring, dan BBM untuk melaut menangkap ikan sagela di laut Teluk Tomini, Ahad (31/5) siang. (Foto: Jitro Paputungan /Hargo.co.id)
SIAP MELAUT – Takim Patta dan rekannya sesama nelayan mempersiakan jaring, dan BBM untuk melaut menangkap ikan sagela di laut Teluk Tomini, Ahad (31/5) siang. (Foto: Jitro Paputungan /Hargo.co.id)

Siang itu, Takim bersama kelompok nelayanya hendak melaut di sekitar Teluk Tomini. Pukat atau jaring warna hitam yang digelar di lantai dermaga mulai disusun rapih, dan selanjutnya diangkut ke perahu viber milik kelompok nelayan.

“Alhamdulillah kalau untuk BBM di sini lancar, kami bawa itu (galon) langsung ke SPBU di Desa Bubaa untuk isi BBM, sekali melaut itu biasanya sampai 30 liter, ya tergantung jarak yang kami tempuh,”ujar Takim sambil menunjuk galon khusus berwarna merah yang merupakan tanki BBM mesin tempel berkapasitas 15 PK.

Kata dia, sekali melaut dengan tangki bensin terisi penuh, biasanya mereka mendapatkan tangkapan ikan sagela hingga 500 kg bahkan lebih.

Takim mengaku senang, mereka tak kesulitan lagi mendapatkan BBM, apalagi sejak hadirnya SPBU Kompak di Desa Bubaa yang hanya berjarak kurang lebih 3 Km dari Desa Bangga.

Selain BBM satu harga, yakni dengan harga yang sama seperti yang ada di SPBU pusat kota, stok juga selalu tersedia lantaran distribusi lancar.

“Kebetulan kan petugas SPBUnya orang kampung sini juga. Jadi kalau ada mobil tangki masuk, itu dikasih tahu,”ujarnya.

Mobil tangki yang dimaksud Takim adalah armada distribusi BBM milik PT Elnusa Patrofin, perusahaan yang khusus mendistribusikan BBM Pertamina dari Integrited Terminal (IT) Gorontalo ke seluruh SPBU di penjuru Gorontalo, termasuk ke SPBU Kompak Paguyaman Pantai.

NADI NELAYAN – Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU) Kompak di Desa Bubaa, Kecamatan Paguyaman Pantai, Boalemo yang menjadi nadi nelayan karena menyalurkan BBM satu harga. (foto: Jitro Paputungan/Hargo.co.id)
NADI NELAYAN – Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU) Kompak di Desa Bubaa, Kecamatan Paguyaman Pantai, Boalemo yang menjadi nadi nelayan karena menyalurkan BBM satu harga. (Foto: Jitro Paputungan/Hargo.co.id)

SPBU yang berdiri di Desa Bubaa atau kurang lebih 3 KM dari Desa Bangga ini telah ada sejak tahun 2023 lalu, dan sejak saat itu pula armada Elnusa Petrofin menerobos akses Paguyaman Pantai yang tergolong sulit dan ekstrim.

Kondisi jalan yang sempit, rusak dengan kubangan selebar badan jalan, tanjakan terjal dengan sisi jalan terdapat jurang yang curam, serta sejumlah titik longsor, dan pohon tumbang, tak membuat Awak Mobil Tangki (AMT) Elnusa Petrofin keder untuk mengatar energi ke wilayah terjauh di Kabupaten Boalemo ini.

Berita Terkait:  Polsek Paguyaman Pantai Sosialisasikan Pentingnya Berlalulintas Lewat Bagi-bagi Takjil

Lancarnya distribusi BBM menurut Takim berefek pada lancarnya aktivitas nelayan di Desa Bangga, termasuk nelayan dari desa-desa lainya di Paguyaman Pantai.

Bisa dibayangkan kata dia, jika distribusi BBM terganggu, mereka dipastikan parkir perahu. Sehingganya, lanjut Takim, distribusi BBM yang lancar merupakan penyambung nadi nelayan khususnya yang ada di Desa Bangga.

“Dulu, kami harus beli BBM di Tilamuta (Ibukota Kabupaten), jaraknya jauh, itu pun untung-utung kalau dapat, kalau tidak dapat ya kita parkir perahu,” ungkapnya.

Desa Bangga yang berjarak kurang lebih 60 Km dari Kota Gorontalo ini memang terkenal sebagai sentra ikan sagela. Sagela merupakan nama lokal Bahasa Gorontalo dari ikan roa (Hemiramphus brasiliensis) yang merupakan ikan family julung-julung.

Sekretaris Desa Bangga, Tewo Bano, menyebutkan kurang lebih 70 persen penduduk Desa Bangga berprofesi sebagai nelayan, dan fokus pada nelayan ikan sagela.

Ikan jenis ini yang bisa diolah menjadi bahan pangan, dan banyak dicari masyarakat Gorontalo, karena rasanya yang enak dan khas. Misalnya, menjadi ikan sagela asap, abon sagela, hingga dabu-dabu sagela. Bahkan, beberapa menu makanan seperti nasi goreng di Gorontalo selalu menambah virian sagela.

Tewo Bano mengatakan, setelah ditangkap nelayan, roa atau sagela masuk ke pengumpul untuk diproses pengasapan, yang lokasi pengasapan tak jauh dari dermaga Desa Bangga.

Di sini, ibu-ibu yang tergabung dalam kelopok wanita nelayan ikut berperan. Mereka mengolah sagela dalam banyak varian, seperti sambal atau dabu-dabu sagela, dan abon sagela. Hasilnya kemudian dibeli Badan Usaha Milik Desa atau BUMDes Julung-julung milik Desa Bangga.

“Sehingga kalau ada yang pesan dari luar, itu belinya langsung lewat Bumdes. Alhamdulilah, efeknya sangat berasa bagi pemberdayaan dan ekonomi masyarakat desa. Bapak-bapak jadi nelayan, ibu-ibu mengelola sagela menjadi berbagai macam varian, dan BUMDes yang menjualnya kembali. Ada yang pesan bahkan dari Jakarta,” terang Tewo Bano.

IKAN SAGELA - Asap yang dijual warga merupakan hasil tangkapan nelayan di Desa Bangga, Paguyaman Pantai. (Foto: Jitro Paputungan/Hargo.co.id)
IKAN SAGELA – Asap yang dijual warga merupakan hasil tangkapan nelayan di Desa Bangga, Paguyaman Pantai. (Foto: Jitro Paputungan/Hargo.co.id)

Hal yang sama disampaikan Camat Paguyaman Pantai, Radius Pandju. Kepada pewarta, Kamis (4/6/2026), Radius mengatakan delapan desa di Kecamatan Paguyaman Pantai mayorita penduduknya berprofesi sebagai nelayan dan petani, yang semuanya membutuhkan BBM.

Petani untuk traktor dan mesin perontok jagung, sedangkan nelayan untuk kebutuhan mesin kapal atau perahu.

“Paguyaman Pantai tidak seperti 10 atau lima tahun yang lalu, sejak ada SPBU dan distribusi BBMnya lancar, geliat ekonomi masyarakat itu meningkat, yang nelayan mereka makin rajin melaut, karena tak terkendala dengan BBM apalagi satu harga, harganya sama dengan yang ada di kota,”ujarnya.

Berita Terkait:  Komitmen Kapolri Lestarikan Budaya Indonesia Tuai Apresiasi

Khusus untuk Desa Bangga, lanjut Camat Radius Pandju, Pemerintah Kabupaten Boalemo melalui Dinas Pariwisata telah menetapkan sebagai kawasan desa kuliner, dengan unggulan produk turunan sagela, seperti roa/sagela asap, abon roa atau abon sagela, dan sambal sagela.

“Ada BUMDesnya yang mengelola, geliat pemberdayaan masyarakat sangat nampak. Alhamdulilah bisa merekrut pekerja warga desa, terutama meraka ibu-ibu. Tentu ini efek dari lancarnya distribusi BBM ke wilayah kami. Itu tidak bisa dipungkiri,” ungkap Camat Radius Pandju.

Selain itu, Desa Bangga termasuk yang dipersiapkan sebagai Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) program prioritas Presiden Prabowo Subianto yang menyasar desa pesisir untuk terus dikembangkan.

“BBM lancar, nelayan tenang melaut, apalagi kalau sudah ada KNMP, saya yakin nelayan kami makin sejahtera apalagi memang hanya fokus pada satu produk saja, yakni ikan sagela. Sehingga dimana-mana kalau cari sagela, pasti ke Desa Bangga,” ujarnya.

Kelancaran distribusi BBM hingga ke pelosok negeri seperti Paguyaman Pantai, memang menjadi komitmen PT.Elnusa Petrofin. Kondisi akses jalan, dan cuaca, tetap menjadi perhatian perusahaan sebelum Awak Mobil Tangki (AMK) bertugas membawa ribuan liter bahan bakar, dengan tujuan utama distribusi BBM tiba tepat waktu.

EKSTRA HATI-HATI : Kondisi akses jalan menuju Paguyaman Pantai yang rusak membuat siapa saja yang melintas butuh kehati-hatian, termasuk AMT yang membawa BBM ke wilayah ini. (Foto: Jitro Paputungan/Hargo.co.id)
EKSTRA HATI-HATI : Kondisi akses jalan menuju Paguyaman Pantai yang rusak membuat siapa saja yang melintas butuh kehati-hatian, termasuk AMT yang membawa BBM ke wilayah ini. (Foto: Jitro Paputungan/Hargo.co.id)

Manager Corporate Communication & Relation Elnusa Petrofin, Putiarsa Bagus Wibowo, kepada awak media, mengatakan, PT.Elnusa Petrofin menerapkan peta Journey Risk Management (JRM) yang ketat. Jalur ke arah Paguyaman telah dipetakan titik risikonya, termasuk penyediaan titik aman seperti Titik Rest Area di pusat Kecamatan Paguyaman untuk memastikan AMT dapat mengantisipasi kondisi medan dan beristirahat demi keselamatan.

Akses ke wilayah Kecamatan Paguyaman Pantai, memang terbilang ekstrim. AMK mesti ekstra hati-hati, lantaran kondisi jalan yang sempit, dan menanjak.

Belum lagi, di beberapa titik terdapat kerusakan parah, yang dapat membuat laju armada tersendat. Selain itu terdapat beberapa titik longsor dan pohon tumbang, serta di sisi jalan terdapat jurang dengan kedalaman yang curam.

Kondisi akses ini makin diperparah jika cuaca tidak bersahabat, seperti hujan dan angin kencang, sebab bisa saja terjebak banjir dan longsor.

Putiarsa Bagus Wibowo mengatakan, Elnusa Petrofin memiliki system pemantauan berlapis untuk mengantisipasi kondisi seperti akses Paguyaman Pantai.

Kata dia, pergerakan armada senantiasa dimonitor secara terpusat menggunakan system Auto Scheduling dan pemantauan Road Trip Hours (RTH).

“Apabila armada mendapati jalur yang terputus atau situasi darurat lainnya, kami memiliki Journey Risk Management (JRM), Struktur Organisasi Darurat tersendiri di Integrated Terminal Gorontalo. Tim Pengendali Keadaan Darurat kami akan langsung berkoordinasi secara intensif dengan Tim ERP Client (Pertamina) serta pihak kepolisian setempat, untuk menyusun strategi suplai alternatif agar ketersediaan BBM di SPBU Kompak tetap terjaga, serta tim Road Traffic Control (RTC) di Jakarta yang siap siaga 24 jam memandu perjalanan Awak Mobil Tangki,” jelas Arsa, sapaan Putiarsa Bagus Wibowo.

Berita Terkait:  Dua Warga dari Daerah Lain Terciduk Buang Sampah di Kota Gorontalo

Selain RJM, perusahaan yang telah 30 tahun menangani distribusi BBM di Indonesia ini juga memberlakukan Sistem Monitoring Digital Terintegrasi, dimana perjalanan armada dipantau secara real-time melalui program standarisasi monitoring canggih, seperti, sistem auto scheduling untuk validasi dan penjadwalan distribusi otomatis, monitoring road trip hours (RTH) untuk memantau durasi perjalanan mobil tangki secara presisi, serta laporan excel monitoring penyaluran berkala per 3 jam, dan grup koordinasi WhatsApp untuk mendeteksi hambatan di jalur pelosok secara cepat.

“Untuk penanganan keadaan darurat atau emergency response, Kami memiliki Struktur Organisasi Darurat (ERP) yang aktif. Jika terjadi bencana alam seperti longsor total, tim Emergency Response Plan (ERP) langsung bergerak berkoordinasi dengan ERP Client (Pertamina), aparat kepolisian (Polres setempat), dan instansi terkait untuk menjalankan skema kontingensi agar pasokan ke SPBU Kompak tidak terputus,” ungkapnya.

Tidak hanya ke SPBU Kompak yang berada di pelosok, tapi mekanisme yang sama juga diberlakukan untuk setiap distribusi BBM ke seluruh SPBU. Setiap hari, Elnusa Petrofin dengan dukungan 86 personel on board (POB) mendistribusikan energy ke beragam titik penyalur di seluruh penjuru Gorontalo, yang mencakup 26 SPBU, 11 APMS/SPBUK (termasuk tipe SPBU Kompak), 13 Pertashop, 3 SPBUN, dan 9 titik untuk kepolisian (Polri), dengan total jarak tempuh kumulatif armada rata-rata 4.060 KM setiap harinya.

Putiarsa menekankan, pihaknya menerapkan Budaya Keselamatan & Kesiapan Mental bagi setiap AMT. Sebelum mengarungi medan ekstrem terpencil, setiap AMT wajib melalui proses fit to work dengan pemeriksaan kesehatan, seperti tensi darah untuk memastikan AMT dalam kondisi prima.

Selain itu, yang wajib dilakukan juga adalah Pre-Trip & Daily Inspection serta inspeksi bersama pada unit mobil tangki atau pengecekan armada sehinga truk BBM siap menantang kondisi jalan di lapangan.

“Dan, sebelum armada berangkat dari gerbang Fuel Terminal, seluruh tim rutin melakukan kegiatan Nuansa Pagi atau briefing keselamatan dan berdoa bersama. Kedisiplinan dan rasa tanggungjawab inilah yang membuat para AMT bangga bisa menembus pelosok, membawa energi, demi membantu para nelayan lokal, seperti yang ada di Desa Bangga mendapatkan bahan bakar. Agar mereka tetap bisa melaut,” tandas Putiarsa Bagus Wibowo.(Tro)