Hargo.co.id, GORONTALO – Pelestarian bahasa daerah membutuhkan pembiasaan yang berkelanjutan agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Jalur pendidikan dinilai menjadi salah satu cara strategis untuk mengenalkan sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap bahasa dan sastra daerah.
Hal itu disampaikan Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail saat memberikan sambutan pada penandatanganan nota kesepakatan antara Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dengan Pemerintah SeProvinsi Gorontalo, Kamis (15/10/2026)
Gubernur Gusnar menegaskan, nota kesepakatan tersebut tidak cukup hanya menjadi dokumen kerja sama. Hal yang lebih penting adalah bagaimana kesepakatan itu diwujudkan melalui langkah nyata dan memberikan kemajuan dalam pelestarian bahasa daerah dari tahun ke tahun.
“Yang paling strategis adalah bagaimana membiasakannya. Kita harus membiasakannya pada kelompok-kelompok supaya dari tahun ke tahun itu ada kemajuan,” ujar Gubernur Gusnar Ismail.
Menurutnya, masih ada anggapan bahwa menggunakan bahasa daerah merupakan sesuatu yang ketinggalan zaman. Padahal, bahasa daerah memiliki kedudukan penting dalam membentuk identitas masyarakat dan turut memperkaya bahasa nasional.
Untuk itu, Gubernur Gusnar mengajak masyarakat untuk tidak ragu menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan tersebut perlu terus dibangun agar bahasa daerah tidak semakin ditinggalkan, terutama oleh generasi muda.
“Jangan merasa ketinggalan zaman ketika kita melakukan atau membiasakan penggunaan bahasa daerah,” tegasnya.
Ia menjelaskan, bahasa daerah memiliki pengaruh terhadap perkembangan bahasa Indonesia. Sejumlah ungkapan yang digunakan dalam percakapan sehari-hari menjadi gambaran bahwa kekayaan bahasa lokal dapat mewarnai komunikasi masyarakat secara lebih luas.
Selain bahasa, Gubernur Gusnar turut menyoroti keberadaan sastra daerah yang perlu mendapat perhatian. Salah satunya tanggomo, tradisi sastra lisan Gorontalo yang menurutnya kini semakin jarang terdengar dalam kehidupan masyarakat.
Ia mengaku pernah menggunakan tanggomo ketika berkampanye dalam pemilihan kepala daerah. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa tradisi sastra daerah masih dapat diperkenalkan melalui berbagai ruang sosial, selama masyarakat memberikan kesempatan untuk menggunakannya.
Menurut Gubernur Gusnar Ismail, pelestarian bahasa dan sastra daerah perlu dilakukan secara bersama-sama. Pemerintah, lembaga pendidikan, serta masyarakat memiliki peran dalam memastikan warisan budaya tersebut tetap dikenal dan digunakan.
Melalui kerja sama dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, ia berharap upaya pelindungan dan pengembangan bahasa daerah di Gorontalo semakin terarah. Jalur pendidikan diharapkan dapat menjadi ruang untuk menanamkan kebiasaan berbahasa daerah sekaligus memperkenalkan kekayaan sastra lokal kepada generasi penerus.
Gubernur Gusnar Ismail juga menyampaikan terima kasih atas kehadiran jajaran Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa di Gorontalo. Ia berharap pertemuan tersebut menjadi langkah penting dalam memperkuat komitmen bersama menjaga keberlangsungan bahasa daerah sebagai bagian dari identitas dan kekayaan budaya Gorontalo. (Diyanti)












