Gorontalo

Harga Beras Termahal Nasional, Pernyataan Pejabat Pemprov dengan Bulog Malah Berseberangan

×

Harga Beras Termahal Nasional, Pernyataan Pejabat Pemprov dengan Bulog Malah Berseberangan

Share this article
Harga Beras Termahal Nasional, Pernyataan Pejabat Pemprov dengan Bulog Malah Berseberangan
Ilustrasi beras. (KOMPAS/GARRY ANDREW LOTULUNG)

Hargo.co.id, GORONTALO – Pernyataan sejumlah instansi di lingkungan Pemerintah Provinsi Gorontalo terkait kondisi perberasan daerah memunculkan tanda tanya publik.

Berita Terkait:  Desa Poowo Barat di Kabupaten Bone Bolango Terpilih sebagai Desa Binaan PKK

Pasalnya, informasi yang disampaikan mengenai ketersediaan stok, produksi beras, hingga penyebab lonjakan harga di pasaran terkesan tidak sejalan satu sama lain.

Di satu sisi, pemerintah daerah mengklaim Gorontalo mengalami surplus produksi beras. Di sisi lain, Bulog memastikan cadangan beras masih mencukupi hingga akhir tahun.

Berita Terkait:  Zukri Suratinojo: Lomba Kelurahan Dinilai dari Tiga Aspek

Namun belakangan, muncul pernyataan bahwa pasokan beras justru berkurang dan distribusi mengalami gangguan sehingga memicu kenaikan harga di pasar rakyat.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Gorontalo, Muljady Mario, sebelumnya menyatakan ketersediaan beras daerah berada dalam kondisi aman.

Berita Terkait:  Stop Polemikkan Isu Menantu Gubernur jadi Komisaris BSG, Ronal: Tak Produktif, Baiknya Berfikir Hal yang Besar

Dalam dialog “Tamu Kita” yang disiarkan secara virtual dan dikutip dari RRI pada 4 Mei 2026, Muljady menjelaskan bahwa produksi gabah Gorontalo sepanjang 2025 meningkat hampir 20 persen dibanding tahun sebelumnya.

Berdasarkan perhitungan pemerintah daerah, peningkatan tersebut menghasilkan produksi beras sekitar 157 ribu ton per tahun.

Berita Terkait:  Sekdaprov Jelaskan Pentingnya Penguatan Kemampuan ASN Terhadap Birokrasi

Angka itu disebut lebih tinggi dibanding kebutuhan konsumsi masyarakat Gorontalo yang berada di kisaran 143 ribu ton per tahun.

Menurut Muljady, capaian tersebut menunjukkan Gorontalo masih memiliki surplus produksi dan berkontribusi terhadap ketahanan pangan nasional. Bahkan, daerah ini disebut pernah menjadi pemasok beras bagi wilayah lain yang membutuhkan.

Berita Terkait:  Pendaftaran GHM 2025 Diperpanjang Hingga 15 Oktober

Pernyataan senada kemudian datang dari Perum Bulog Gorontalo. Kepala Bulog Gorontalo, La Ode Sulaiman, pada 21 Juli 2026 menegaskan bahwa

stok beras yang dikelola Bulog mencapai 2.400 ton dan dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga Desember 2026.

Berita Terkait:  Dispora Provinsi Gorontalo Gelar Bimtek PKPMD

Selain menjamin kecukupan stok, Bulog juga memastikan kualitas beras yang didistribusikan kepada masyarakat merupakan beras dalam negeri dengan karakteristik pulen.

Bulog menyebut kualitas beras yang beredar saat ini berbeda dengan keluhan masyarakat pada masa lalu yang menilai beras Bulog cenderung pera dan keras.

Berita Terkait:  Penanganan ODGJ Butuh Kolaborasi Lintas Sektor

Untuk menjaga stabilitas harga, Bulog mengaku terus berkolaborasi dengan pemerintah daerah melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM), termasuk untuk komoditas beras, gula pasir, dan minyak goreng.

Namun hanya berselang dua hari setelah pernyataan tersebut, narasi berbeda disampaikan oleh Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan (Kumperindag) Provinsi Gorontalo, Fayzal Lamakaraka.

Berita Terkait:  Bersama ORARI, Satpol PP dan Damkar Provinsi Gorontalo Gelar Gowes

Pada 23 Juli 2026, Fayzal menyebut kenaikan harga beras dan minyak goreng di pasar rakyat dipicu oleh menurunnya pasokan serta terganggunya distribusi barang.

Ia menjelaskan bahwa kemarau panjang berdampak pada produksi sejumlah komoditas,

Berita Terkait:  Ini Strategi Penjagub Tangani Tengkes di Gorontalo

sementara distribusi dari luar daerah ikut terhambat akibat keterbatasan pasokan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar.

Menurutnya, berkurangnya ketersediaan barang di pasaran, ditambah kebijakan penyesuaian harga dari distributor, membuat pedagang terpaksa menaikkan harga jual kepada konsumen.

Berita Terkait:  Tak Ingin Terjebak Dinamika di Media Sosial, Gusnar Pilih Fokus Cari Solusi

Pernyataan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai kondisi sebenarnya pasokan beras di Gorontalo.

Jika stok daerah berada dalam kondisi surplus dan cadangan Bulog dipastikan cukup hingga akhir tahun,

Berita Terkait:  Tak Ingin Terjebak Dinamika di Media Sosial, Gusnar Pilih Fokus Cari Solusi

mengapa gangguan pasokan dari luar daerah disebut menjadi salah satu faktor utama kenaikan harga?

Perbedaan sudut pandang antarlembaga ini semakin menjadi sorotan karena muncul di tengah tingginya harga pangan di Gorontalo.

Berita Terkait:  Dispora Provinsi Gorontalo Gelar Bimtek PKPMD

Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) menunjukkan harga beras di pasar modern Gorontalo

bertahan pada level Rp20.250 per kilogram selama periode 20–22 Juli 2026. Angka tersebut tercatat sebagai yang tertinggi di Indonesia pada saat itu.

Berita Terkait:  Stop Polemikkan Isu Menantu Gubernur jadi Komisaris BSG, Ronal: Tak Produktif, Baiknya Berfikir Hal yang Besar

Tidak hanya beras, harga minyak goreng di pasar tradisional Gorontalo juga menjadi yang tertinggi secara nasional

dengan rata-rata mencapai Rp27.100 per kilogram pada periode yang sama.(Ndi) 

Berita Terkait:  Desa Poowo Barat di Kabupaten Bone Bolango Terpilih sebagai Desa Binaan PKK