Persepsi

Idul Adha dan Kepemimpinan Moral

×

Idul Adha dan Kepemimpinan Moral

Share this article
Idul Adha dan Kepemimpinan Moral
Hamka Hendra Noer. Dosen Ilmu Politik, FISIP, Universitas Muhammadiyah Jakarta.

PENUTUP

Kisah Ibrahim AS bukan dongeng kuno, tetapi refleksi bagi siapa saja yang dipercaya memegang kekuasaan. Pemimpin tidak sekadar mengandalkan kekuatan, popularitas, atau retorika, melainkan keberanian memikul beban moral.

Ibrahim AS tetap setia pada kebenaran yang diyakininya, meski menempuh jalan penuh ujian. Inilah hakikat kepemimpinan, menghadapi dilema etis dengan keteguhan nurani bukan demi kepentingan diri sendiri.

Berita Terkait:  Fadel Muhammad, Nomaden dan Klub Sepakbola Monza

Di tengah krisis kepemimpinan politik, spirit Idul Adha menjadi momentum kolektif menakar kembali kualitas moral pemimpin kita. Bangsa besar bukan hanya membutuhkan pemimpin cerdas secara teknokratis, tetapi benar secara etis.

Pemimpin sejati adalah yang berani berkorban, bukan gemar mengorbankan orang lain demi ambisi kekuasaan. Pemimpin yang tetap setia pada nilai, meski jalan yang ditempuh sunyi dan sepi dari tepuk tangan.

Berita Terkait:  Jejak Dokter Dalam Sejarah Berdirinya Kementerian Agama

Refleksi keteladanan Ibrahim AS menjadi oase menghidupkan kembali harapan akan hadirnya pemimpin yang berpihak pada kebaikan dan keadilan.(*)