Hargo.co.id, GORONTALO – Perjalanan panjang penuh dedikasi mengantarkan Susanti Ona menjadi Kepala SMP Negeri 1 Botupingge.
Sosoknya kini dikenal sebagai pemimpin muda dengan semangat belajar tinggi, berangkat dari pengalaman panjang sebagai guru di berbagai wilayah.
Susanti resmi menjabat sebagai kepala sekolah sejak 19 Januari 2026. Sebelumnya, ia telah mengabdi di sejumlah sekolah, mulai dari SMP Negeri 1 Bulango Timur, kemudian berpindah ke SMP Negeri 1 Tapa, hingga lima tahun terakhir bertugas di SMP Negeri 2 Satap Bulango Ulu.
Pengalaman di daerah dengan keterbatasan akses menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya.
Ia harus menempuh perjalanan pulang-pergi menggunakan sepeda motor setiap hari demi menjalankan tugas mengajar.
“Saya tetap bertahan selama lima tahun, walaupun kondisinya cukup sulit. Itu sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai guru,” ungkapnya, Rabu (29/4/2026).
Lulusan Universitas Gorontalo tahun 2008 ini mengaku tak pernah merencanakan menjadi kepala sekolah.
Ia awalnya hanya mengikuti berbagai program pengembangan diri, seperti program guru penggerak hingga seleksi bakal calon kepala sekolah (BCKS).
“Saya tidak pernah merencanakan. Awalnya hanya ikut-ikut program, lalu mencoba tes, dan ternyata lulus. Saya anggap ini seperti ‘iseng berhadiah’,” ujarnya sambil tersenyum.
Penempatannya di SMP Negeri 1 Botupingge terjadi setelah kepala sekolah sebelumnya meninggal dunia.
Dari situ, ia dipercaya untuk melanjutkan kepemimpinan di sekolah yang telah berdiri sejak 1978 tersebut.
Namun, tanggung jawab baru itu bukan tanpa tantangan. Selain tetap menjalankan kewajiban mengajar 24 jam tatap muka, Susanti juga harus mengelola berbagai administrasi sekolah serta mengambil keputusan penting sebagai pimpinan.
“Kadang mau tidur pun masih memikirkan pekerjaan besok. Apalagi saya masih tergolong muda dan pengalaman memimpin masih terbatas,” katanya.
Ia juga menyoroti tantangan lain dalam dunia pendidikan, yakni menghadapi karakter siswa yang beragam. Menurutnya, profesi guru menuntut kesabaran ekstra dan kesiapan mental yang kuat.
“Setiap hari mental kita diuji. Menghadapi anak-anak itu butuh kesabaran. Bahkan saya rasa guru juga perlu ‘asuransi mental’,” tambahnya.
Dalam memimpin, Susanti menekankan pentingnya pembentukan karakter siswa. Ia menilai capaian akademik dapat terus ditingkatkan, namun pembentukan akhlak membutuhkan proses yang lebih panjang dan dukungan dari lingkungan keluarga.
Untuk mendukung hal tersebut, pihak sekolah juga menjalin kerja sama dengan kepolisian setempat, terutama dalam pengawasan siswa, termasuk penanganan kasus bolos sekolah.
Gaya kepemimpinannya pun cenderung terbuka dan kolektif. Ia mengedepankan komunikasi serta kebersamaan dalam setiap pengambilan keputusan bersama para guru.
“Saya selalu tekankan, kita di sini setara. Setiap keputusan dibahas bersama,” jelasnya.
Ke depan, Susanti berharap SMP Negeri 1 Botupingge dapat terus berkembang, baik dalam kualitas akademik maupun pembentukan karakter siswa.
“Harapannya, sekolah ini bisa terus maju dan mengalami peningkatan dari waktu ke waktu,” tutupnya.(Mg-01)












